Kategori: Budaya

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Meski Baru Pertama Kali, Karnaval Sedekah Bumi Desa Lengkong Batangan Banyak Diapresiasi
Budaya

Meski Baru Pertama Kali, Karnaval Sedekah Bumi Desa Lengkong Batangan Banyak Diapresiasi

BATANGAN. Ratusan warga Desa Lengkong Kecamatan Batangan tumpah ruah ke jalan pada Minggu siang (17/09). Keriangan mereka untuk menyaksikan pawai budaya dan karnaval kreasi dalam rangka sedekah bumi yang baru pertama kali diadakan di Lengkong.

Menurut Kepala Desa Lengkong Yashadi,  diadakanya pawai budaya dan karnaval ini agar masyarakat guyub rukun bersatu padu dalam menjaga nilai-nilai kerukunan hingga terciptanya situasi yang humanis aman dan kondusif di masyarakat.

“lni baru pertama kali diadakan tapi antusias warga bagus sekali. Biar masyarakat tahu akan hasil kekayaan desa.  semoga dengan diadakanya karnaval ini masyarakat bisa semakin rukun dan erat dalam bermasyarakat selalu kondusif dan harapan saya semoga lebih baik di tahun yang akan datang,” ucap bapak Yashadi.

Karnaval yang diikuti ratusan peserta yang terdiri dari 15 RT ini berkumpul di lapangan desa Lengkong kemudian berkeliling desa dengan menampilkan aneka ragam kreasi.

Seneng Mas, rame banget soale lagi iki ono karnaval, ngene yo kompak,” tutur Lia warga desa Lengkong.

(Senang mas, ramai sekali soalnya baru kali ini ada karnaval –red)

Nampak dalam peserta kirab  rombongan berbusana pengantin, ibu-ibu dengan menabuh panci, barongan, pakaian adat, wajib KB, wayang orang, babat tanah Jawa, joko tingkir, tumpeng, kura – kura raksasa serta marching band.

Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah penampilan peserta orang tua dan anak-anak yang memakai kostum dari bahan dedauanan dan koran bekas.

“Di kepalanya ini pakai daun mangga, di badannya pakai daun kluweh atau daun sukun, ini konsep sederhana dengan memanfaakan alat yang ada di desa kami sehingga nggak usah mengeluarkan biaya mas.” imbuh bu Ani dari RT 02.

Camat Batangan Supat SP yang ikut dalam acara karnaval siang itu berikan apresiasi positif sekaligus supoort untuk acara yang digagas Kepala Desa Lengkong Yashadi ini.

“Saya mengapresiasi sekali acara ini memang untuk persatuan dan kesatuan dalam acara ini baik sekali. Gotong royong dalam masyarakat persatuannya kelihatan sekali, sehingga dari unsur muspika, kepala desa, BPD, perangkat desa menyatu menginginkan masyarakat bersatu untuk membangun kembali desa ini. Harapan saya lebih di tingkatkan lagi sehingga meningkatkan kehidupan kemasyarakatan, kesatuanya di tingkatkan,” pungkasnya.

Reporter: Arton

Editor: A. Muhammad,  Revan Zaen

 

Permalink ke Main Ketoprak Lakon Damarwulan Winisudho Bareng Kades Se Juwana, Haryanto Sentil ADD
Budaya

Main Ketoprak Lakon Damarwulan Winisudho Bareng Kades Se Juwana, Haryanto Sentil ADD

JUWANA – Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia, contohnya seperti yang dilakukan oleh Muspika serta Kades se Kecamatan Juwana ini. Untuk memeriahkan HUT RI ke 72 tahun serta Hari Jadi Kabupaten Pati ke 694 tahun, mereka menggelar pertunjukan ketoprak yang semua pemainya adalah Muspika serta kepala desa se-kecamatan Juwana dengan nama Pakde Budoyo. Lakon ketoprak yang dimainkan adalah Damarwulan Winisudho atau Damarwulan Ngratu (Senin,28/08) di alun alun Juwana.

Menurut Kasie Pemerintahan Kecamatan Juwana Raden Ahmada Mangkunegara, ini adalah salah satu wujud dari cinta budaya yang dituangkan dalam perayaan HUT RI ke 72.

“Ini untuk nguri-nguri budaya dalam rangka HUT RI 72 dan mangaubagyo dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati Pati. Selain itu juga untuk menjaga kekompakan muspika beserta kades se-kecamatan Juwana,” Ungkap Raden Ahmada

Ahmada juga menuturkan bahwa nantinya agar budaya ketoprak ini bisa juga diikuti oleh kepala desa di kecamatan yang lainya, sesuai anjuran Gubernur Jateng yang memberikan contoh dibeberapa kota seperti Jepara dan Semarang.

 

Dengan latihan yang hanya sekitar 2 mingguan para kades ini dituntut untuk bermain layaknya profesional meski banyak kendala dari segi bahasa dan lainya.

Sependapat dengan Ahmada, Kepala desa Bakaran Kulon Subiyanto yang juga menjabat sebagai ketua paguyuban ketoprak se Juwana menyebutkan ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kesenian ketoprak selain tentang ilmu pemerintahan, pengajaran dan mendidik sopan santun kepada anak, juga tentang bagaimana cara mengenal wanita, agar kita bisa mencermati setiap filosofi budaya.

“Harapan kita budaya di wilayah Juwana jangan punah, kita selaku pimpinan dari semua kepala desa se kecamatan Juwana, berharap agar nantinya masyarakat bisa mengambil filosofi dari kebudayaan ketoprak serta ada tunas-tunas yang berbudaya dan beradiluhur agar bangsa ini tetap menjadi bangsa yang berbudaya” pungkasnya.

Haryanto yang berperan sebagai Ayahanda Damarmulan menyelipkan pesan untuk para kades dalam ucapannya.  “Dadiyo pemimpin sing jujur, ngayomi masyarakat, bangun deso seng apik, ojo di korupsi dana ADD soale iku kanggo kesejahteraan masyarakat,” demikian wejangan Mou Doro, ayahanda Damarwulan yang diperankan bupati Haryanto.

Selain Haryanto, nampak pula Danramil Juwana Bapak Yahudi, Bapak Camat Juwana, Teguh Widiatmiko.  Minak jinggo diperankan Sugiyanto, Kades Bakaran Kulon, sedangkan damarwulan diperankan Kades Kebonsawahan.

Salah satu momen yang cukup menggelitik adalah ketika saah satu adipati gugur saat peperangan. Namun, ada salah satu penonton tiba-tiba nyawer, ternyata sang adipati langsung nyaut dan akting tewas lagi sambil menahan ketawa.

Sukarmin, warga Sembaturagung Jakenan, yang menonton pagelaran ini merasa terhibur dengan adanya pertunjukan ini.

“Wah iki apik mas kanggo panutan soale seng main petinggi Iso kanggo tauladan, aku yo pingin delok koncoku petinggi Bringin seng melok main ketoprak,” kata Sukarmin

(wah bagus  mas, buat panutan. Soalnya yang main kepala desa jadi bisa jadi teladan. Saya ya ingin menonton soalnya teman saya, Kades Bringin ikut main)

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Kampanyekan Cinta Lingkungan, Warga Kalidoro Kreasikan Gaun Daur Ulang Sampah
Budaya, Kesehatan

Kampanyekan Cinta Lingkungan, Warga Kalidoro Kreasikan Gaun Daur Ulang Sampah

PATI – Kampanyekan budaya cinta lingkungan, Bank Sampah Sejahtera di Kelurahan Kalidoro Kecamatan Pati Kota adakan fashion show yang menggunakan baju daur ulang, Minggu (27/08) .

“Ini adalah salah satu upaya untuk mengampanyekan budaya cinta lingkungan di kalangan masyarakat khususnya bagi warga Kalidoro Pati ” ungkapnya.

Direktur Bank Sampah Sejahtera Kalidoro, Ambar Werdiningrum mengatakan, dalam ajang fashion show baju berbahan sampah daur ulang ini diikuti oleh 23 peserta anak-anak yang orang tuanya menjadi anggota bank sampah tersebut.

Dalam fashion show ini para peserta membuat sendiri baju daur ulangnya bahan dasarnya juga bermacam-macam ada yang dari plastik bekas, botol mineral, bungkus sabun dan berbagai sampah lainnya.

“Saya melihat kreativitas peserta ini memang sangat bagus dan perlu diapresiasi karena mereka bisa menciptakan sebuah gaun indah yang berasal dari sampah,” ujar Ambar.

Maka dari itu dengan adanya kegiatan ini masyarakat di Kelurahan Kalidoro khususnya dan masyarakat Kabupaten Pati pada umumnya bisa memulai melakukan daur ulang sampah. Tujuannya untuk mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh sampah, terutama sampah plastik.

“Semoga dengan kegiatan ini masyarakat bisa lebih kreatif untuk mengolah sampah menjadi barang yang berguna,” pungkasnya.

Reporter: Andi Putra

Editor: A. Muhammad

 

Permalink ke Sukses Dengan Saka Wetan Festival Culture, Ketitang Wetan Gelar Parade Tumpeng
Budaya, Pati

Sukses Dengan Saka Wetan Festival Culture, Ketitang Wetan Gelar Parade Tumpeng

warga berebut gunungan hasil bumi dan jajan pasar di acara sedekah bumi Ketitang Wetan

BATANGAN. Setelah sukses menggelar Saka Wetan Festival Culture, Desa Ketitang Wetan mengadakan parade tumpeng. Ratusan warga berpartisipasi dalam acara ini. Agenda parade tumpeng adalah rutinitas tiap tahun dimana penetuan hari tiap tahunnya diadakan pada Rabu Kliwon.

Sebelumnya agenda parade tumpeng dilaksanakan, sebelumnya sudah diadakan beberapa acara yang melibatkan masyarakat baik anak anak, ibu ibu dan masyarakat umum. Diantaranya dolanan anak-anak, aneka lomba, tari dan saka Wetan Festival Culture yang sukses diadakan. Pada akhir rangkaian acara akan diadakan pengajian umum dan koser OAM.

Kades Ketitang Wetan Kec.Batangan, Suwignyo, S.Pd

“Harapan saya dalam acara sedekah bumi ini semoga masyarakat makin menyadari dan bersyukur supaya desa Ketitang Wetan beserta warganya lebih maju. Bahwasannya bersyukur itu sumbernya dari Allah SWT,” ungkap Suwignyo, S.Pd,  Kepala Desa Ketitang Wetan

Acara parade tumpeng di mulai jam 08.45 dengan ditandai tabuh kentongan oleh Lurah Suwignyo di kediamanya. Selanjutnya gunungan diarak keliling desa menuju punden Mbah Mursidin.

Tak kurang dari 11 tumpeng yang dibawa warga turut memeriahkan acara budaya ini. Selain gunungan, ada juga penampilan angklung dari Desa Doropayung, Marcing Band yang diikuti seluruh warga.

11 Gunungan DIbawa Ke Punden Mbah Mursidin untuk di doakan

Sesampainya di punden Mbah Mursidin, ketua panitia, perwakilan muspika Batangan, nyekar di punden Mbah mursidin. Kemudian oleh Lurah dan rombongan diakhiri dengan doa.

Setelah didoakan, gunungan diperebutkan oleh warga dengan maksud ngalap berkah. “Wah ramai Mas, iki aku ntok ndas pitik aku, oyok oyokan mau” kata Bu Murti dengan wajah sumringahnya.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Eksotisme Seni Dan Budaya Ketitang Wetan Dalam Saka Wetan Culture Festival
Budaya, Pati

Eksotisme Seni Dan Budaya Ketitang Wetan Dalam Saka Wetan Culture Festival

BATANGAN. Ada yang unik dan bernilai seni tinggi saat pemuda Desa ketitang wetan kecamatan batangan memoles agenda tahunan sedekah bumi menjadi sesuatu yang spesial. Mereka mengadakan acara pertunjuka seni budaya dengan tema Saka Wetan Culture Festival.

 

Agenda yang digelar pada Sabtu malam (19/08) mulai pukul 19.00 WIB di lapangan sepak bola Ketitang Wetan berhasil memikat penonton. festival dibuka dengan lagu kenangan dan perjuangan.

Acara tahunan yang selalu memikat para pecinta seni dan budaya ini nampaknya layak menjadi agenda wisata di Pati. Panggung yang unik yang terbuat dari bambu di sertai pecahayaan nan apik membuat momen ini sayang untuk dilewatkan pecinta fotografi.

Pada panggung utama, ditampilkan tari tanding tandingnging tari yang dibawakan oleh anak anak SD ketitang wetan. Disusul teater TTS dari MTS Salafiyah Kajen dan musikalisasi puisi dari teasa MA salafiyah Kajen. Tak ketinggalan bala kaneman dari tayu wetan, musik reggae dari gatoloco, musik reggae dari ngupi bareng, jazz dari kla project, ikut meramaikan acara festival tersebut

 

Sekitar pukul 23.30 WIB, acara puncak paling ditunggu tuggu penonton akhirnya tiba. Warga bersama-sama melakukan pelepasan ratusan lampion terbang. Sontak berbagai gawai sibuk mengabadikan momen yang biasa digelar di sejumlah daerah dengan objek wisata khas seperti borobudur.

 

Seneng mas, acaranya begitu semarak, pokoke gembira aku,” kata Fitri salah satu pengunjung sambil terus mengabadikan moment yang indah pada malam itu.

 

Kegiatan senin budaya ini termasuk rangkaian acara sedekah bumi. Sebelumnya yakni Hari Jumat diadakan pentas seni anak anak, Bazar produk unggulan BUMDES (badan usaha milik desa) dr. Kab. Pati.

“Selanjutnya nanti Hari minggu diadakan jalan sehat, lomba anak anak, semifinal lomba volly, acara rohani. Puncak acara sedekah bumi Desa ketitang wetan adalah arak arakan tumpeng oleh masyarakat Desa ketitang wetan tgl 23 Agustus 2017 jam 07.00 WIB. Monggo ditunggu kehadirannya,” tutup Sugito, ketua panitia.

 

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Ribuan Warga Growong Lor Juwana Tumpah Ruah Saksikan Kirab Budaya Jajah Deso
Budaya

Ribuan Warga Growong Lor Juwana Tumpah Ruah Saksikan Kirab Budaya Jajah Deso

JUWANA. Gempita kirab budaya Growong Lor, Kecamatan Juwana dalam rangka sedekah bumi sebagaimana yang diperkirakan akhirnya benar-benar terjadi. Ribuan warga Growong Lor dan sekitarnya padati di sepanjang jalan yang akan dilewati kirab budaya pada Minggu (13/08). Sebelum puncak acara, warga yang terdiri dari 22 RT masing masing menunjukkan kebolehan.

Wes rong minggu mas, nek latihan. Penasaran aku hasile pie, e.. jebule kok apik, marem aku mas,” komentar Bu Tarmi, warga Growong Lor Juwana.

(Sudah dua minggu mas latihannya. Penasaran saya bagaimana hasilnya. Ternyata kok bagus. Puas saya melihatnya)

Kirab budaya sendiri mengambil garis awal di Balai desa Growong Lor. Pemotongan pita tanda dibukanya kirab dilakukan oleh Lurah bersama Dandim 0718 / Pati Letkol. Inf. Andri Amijaya Kusuma, aparat desa, panitia dan tokoh masyarakat. Bupati terpilih 2017-2022, H. Haryanto nampak hadir sebagai tamu kehormatan atas nama pribadi.

Selanjutnya Dandim 0718 /Pati membuka start para peserta kirab budaya Desa growong lor yang kali ini mengambil tema Kirab budaya jajah deso, menjalin kesatuan dan persatuan, lestarikan budaya lokal.

Sejumlah penampilan apik hasil kreasi warga dalam karanaval yang selalu ditunggu tunggu warga Pati ini. Mulai dari pasukan pembawa bendera merah putih, tumpeng, kereta dari Dinas Pariwisata, karang taruna Rekso Rinekso.

Tak ketinggalan 22 RT turut menyemarakkan acara kirab budaya dengan berbagai seni tari seperti tari gambyong, panen raya, barongan, senam, kethek seprapat, anglung. Selain itu ada pula penampilan seratus meter bendera Merah putih, berbagai hasil Logam, senam joget. Salah satu yang ditunggu adalah patung bung karno dan senapan laras panjang 8 meter yang sempet viral di media sosial.

Salah satu penampilan unik kali ini adalah kelompok mbah jambu yang tampil dengan berpakaian TNI namun bukan berasal dari kesatuan manapun karena hanya berbentuk parodi. Lucunya, saat laporan kepada tamu undangan di panggung kehormatan, ucapannya berulang kali terbolak balik. Sontak penonton dibuatnya terpingkal. Kekonyolan lain muncul saat tentara “gadungan” ini mengisi amunisi granat dengan buah nanas asli.

Letkol. Inf. Andri Amijaya Kusuma terkesan dengan kekompakan warga Growong Lor. “Saya mengapresiasi ide ide seperti ini (kirab budaya dengan kearifan lokal –red) ternyata masih begitu kuat ya. Ada 22 RT semuanya memiliki smangat kebangsaan. Semuanya swadaya, tak ada busana pun berani sewa. Saya kira, anak anak yang melihat kirab ini akan terpupuk jiwa nasionalismenya,” kata Dandim Pati.

Lurah Growong Lor Gunarto berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyukseskan acara.

“Semoga kebersamaan ini tetap terjaga. Tak lupa kami ucapan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu. Para tamu undangan yang berkenan hadir. Terutama teman teman dari koramil juwana dan polsek juwana yang ikut membantu kelancaran acara ini sehingga sukses” pungkasnya.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Kirab Seribu Lengkong, Hidupkan Tradisi Makan Tanpa Piring Bagi Warga Duren Sawit Kayen
Budaya

Kirab Seribu Lengkong, Hidupkan Tradisi Makan Tanpa Piring Bagi Warga Duren Sawit Kayen

Sejumlah warga membawa lengkong melewati bukit pandang

KAYEN. Seribu lengkong (nasi yang dibungkus pelepah pisang) diarak warga Desa Duren Sawit, Kecamatan Kayen, Pati pada Kamis, (10/08) kemarin. Kegiatan tersebut dalam rangka melestarikan tradisi sedekah bumi bagi desa yang dikenal memiliki tempat wisata Bukit Pandang ini.

“Kirab 1000 lengkong ini merupakan perwujudan rasa syukur kepada sang pencipta. Tuhan sudah memberikan fasilitas kehidupan untuk masyarakat, tentunya harus dihormati dan disyukuri,” ungkap Kades Duren Sawit Didik Muryanto.

warga menunggu lengkong di doakan sebelum acara makan bersama

Setiap warga diminta untuk membuat lengkong yang berisi nasi beserta lauk-pauknya. Prosesi kirab 1000 lengkong dimulai dari bukit pandang. Warga terlebih dahulu diajak untuk berdoa bersama,lalu menyusuri jalan setapak menuju Sendang Supo Madurangin yang merupakan leluhur Desa Duren Sawit.

Sampai di Sendang Empu Supo, warga kemudian memakan nasi lengkong yang dibawanya. Hal ini dimaknai sebagai bentuk kebersamaan bahwa semuanya setara, tidak ada yang lebih unggul. Setelah itu, warga diperkenankan mengambil air di sendang tersebut.

Tradisi makan bersama sedekah bumi Duren Sawit

Uniknya, meskipun tradisi sedekah bumi sudah dilakukan setiap tahun, namun khusus untuk tradisi kirab lengkong, tahun ini baru diadakan pertama kalinya.

“Untuk itu, semua elemen masyarakat diajak membaur, menghidupkan kembali tradisi leluhur,” ujarnya.

Warga Desa Duren Sawit menyambut tradisi kirab lengkong dengan sukacita dan berharap kedepannya terus diadakan.

“Maksudnya kan supaya generasi muda bisa tahu kalau dulu sebelum ada piring, masyarakat sini (Desa Duren Sawit –red) kalau makan menggunakan wadah lengkong,” Kata Sarmin, salah satu warga setempat.

Reporter: Andi Putra

Editor: Revan Zaen

Permalink ke 15 Gunungan Hasil Bumi Diarak dalam Kirab Budaya Sedekah Bumi Dukutalit Juwana
Budaya

15 Gunungan Hasil Bumi Diarak dalam Kirab Budaya Sedekah Bumi Dukutalit Juwana

JUWANA. Lima belas gunungan berisi hasil bumi diarak dalam acara sedekah bumi Desa Dukutalit, Juwana (06/08). Kirab budaya ini diikuti 17 kelompok dari perwakilan Posyandu, TK, PAUD, dan 15 RT sebagai pesertanya. Rombongan kirab mulai berangkat pukul 13.00 WIB dengan start di depan Balai Desa Dukutalit dan berakhir di depan SMA Negeri 1 Juwana.

“Ini Adalah rasa syukur warga desa kami, terutama petani petani tambak, brambang, pemindangan dan lainnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semoga diberi kemudahan dalam usaha terutama petani petani dalam berpanen,” ungkap Kepala Desa Dukutalit, Siti Rusmiati AMD.

Lebih lanjut Rusmiyati menjelaskan bahwa kirab budaya ini merupakan keinginan dari warga yang berlangsung terus menerus tiap tahun.

“Insyaallah tiap tahun diagendakan, semoga dengan adanya tasyakuran sedekah bumi ini kerukunan warga tetap terjaga, bersatu dan terjalin kehidupan bermasyarakatnya tenang dan kondusif,” katanya.

Dalam kirab budaya tersebutm tiap RT menampilkan gunungan yang berbeda dan diiringi berbagai kreasi budaya seperti wayang orang, berbagai busana adat, dan berbagai kreasi lainnya.

Panase pol mas, tapi anakku seneng delok karnaval iki, sok minggu malah tambah ramai soale kirab sedekah bumi bareng,  Growong Lor Karo Bakaran Wetan. Pokoke nonton terus,” kata Bu Lastri, salah satu pengunjung.

(Panas sekali cuacanya tapi anak saya senang menonton karnaval ini. Besok minggu (13/08) malah lebih ramai lagi karena ada kirab sedekah bumi Bakaran Wetan dan Growong Lor bersamaan. Pokoknya nonton terus)

Reporter: Arton

Editor: Andi Putra

Permalink ke “Ngalap Berkah”, Warga Mintomulyo Juwana Berebut Gunungan Tumpeng Nasi Kuning
Budaya, Pati

“Ngalap Berkah”, Warga Mintomulyo Juwana Berebut Gunungan Tumpeng Nasi Kuning

Warga Mintomulyo dan sekitarnya berebut pembagian nasi kuning yang dipercaya memberikan keberkahan pada sedekah bumi Desa Mintomulyo pada (03/08)

JUWANA. Ratusan warga berebut tumpengan nasi kuning dalam acara selamatan sedekah bumi Desa Mintomulyo Kecamatan Juwana (03/08).  Kegiatan ini merupakan tradisi yang terus menerus diadakan di Mintomulyo.

“Saya meneruskan adat seperti ini (kirab sedekah bumi-red). Mulai pagi ada kirab, mengiring gunungan tumpeng, selamatan. Supaya meriah, turut menyertai kirab ada drum band yang kemudian diikuti aparat desa dan berbagai kesenian,” kata Warnadi, Kades Mintomulyo Juwana.

“Semoga dalam acara selamatan sedekah bumi ini, warga kami diberikan berkah oleh Yang Maha Kuasa. Supaya masyarakat di sini diberi tambah iman, tambah berkah dan Barokah untuk desa kami,” ungkap Warnadi

Anggota karang taruna mengarak gunungan.

Acara kirab tumpengan sendiri, di awali di rumah kepala desa menuju punden Mbah Tareko,salah satu pepunden desa Mintomulyo. Selanjutnya diserahterimakan gunungan tumpeng oleh kepala desa kepada karang taruna untuk di arak sepanjang jalan Utama, dan kembali ke punden Mbah Tareko.

Tumpeng yang diarak selanjutnya di doakan lalu dibagikan kepada ratusan warga yang hadir. Masyarakat sekitar nampak antusias menyambut acara ini. Hal ini terlihat dari berkumpulnya warga sekitar desa sejak pagi. Mereka setia menunggu, berebutan, berdesakan untuk mendapatkan nasi kuning yang di bagikan panitia.

“Alhamdulillah lancar Mas acara selamatan ini biar rebutan, desak desakan,” kata panitia.

Gunungan tumpeng nasi kuning didoakan terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada warga

 

Aku adoh adoh Mas kepingin ntok sego kuning, Alhamdulillah ntok, semoga berkah, kanggo nyambut gawe, yo tetep usaha, mugo-mugo diwenehi rejeki seng kuoso,” komentar seorang ibu yang tidak bersedia dipublikasikan namanya.

(Jauh-jauh saya ingin mendapatkan nasi kuning. Alhamdulillah berhasil mendapat. Semoga berkah untuk pekerjaan dan mencari nafkah diberikan rejeki melimpah dari Yang Maha Kuasa)

Selain acara kirab tumpengan dan selamatan, di punden Mbah Tareko siangnya di adakan pagelaran wayang kulit dilanjutkan dengan ketoprak pada malam harinya.

Kegiatan kirab ini merupakan puncak acara dimana sebelumnya diadakan berbagai lomba seperti guling maut, cantol caping, dan balap larung yang bertujuan untuk makin mengakrabkan warga agar tetap guyup rukun.

 

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

 

Permalink ke Meriahnya Sedekah Bumi Desa Ngagel Digelar Selama Dua Hari
Budaya

Meriahnya Sedekah Bumi Desa Ngagel Digelar Selama Dua Hari

Ancak atau Gunungan yang diarak warga desa Ngagel / Fotografer : Ria Muscaria

Dukuhseti.Dalam rangka memeriahkan sedekah bumi dan bersih desa Ngagel kecamatan Dukuhseti, (29/07) pemerintah desa Ngagel mengadakan kirab budaya yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat desa Ngagel.

Kirab Budaya rencananya berlangsung se  lama dua hari dengan susunan acara hari pertama Sabtu 29/07/2017 berpusat di Dukuh Ngagel Krajan, Dukuh Cepoko Ledok dan Cepoko Tengger dan hari kedua 30/07/2017 berpusat di Dukuh Penggung.

Sebanyak 26 Gunungan atau Ancak ikut dalam kirab yang kemudian diarak berkeliling desa Ngagel meliputi dukuh Ngagel Krajan, dukuh Cepoko Ledok serta Cepoko Tengger yang dikawal oleh anggota kepolisian dari Polsek Dukuseti

Kepala Desa Ngagel Bapak Suwardi / Fotografer : Ria Muscaria

Seperti biasanya event tahunan yang selalu digelar pemerintah desa Ngagel ini mendapat respon positif bagi masyarakat, selain wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta acara ini juga bisa menumbuhkan rasa kegotong royongan sesama warga masyarakat. .

“ Jadi acara sedekah bumi ini selalu digelar setiap tahun yang merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmatNYA, dan kepedulian masyarakat terhadap kegiatan ini sangatlah luar biasa.

Semoga kegiatan ini bisa lebih luar biasa lagi diwaktu-waktu yang akan mendatang.” Tutur Suwardi.

Pengawalan Polsek Dukuhseti saat Kirab Budaya desa Ngagel / Fotografer : Ria Muscaria

Reporter : Lilik Q.A

Fotografer : Ria Muscaria

Lps Cendekia MA.

editor : A. Muhammad

 

Permalink ke Parade Seni Budaya 35 Kabupaten dan Kota  Bikin  Jumbara Jateng 2017 di Pati Istimewa
Budaya

Parade Seni Budaya 35 Kabupaten dan Kota Bikin Jumbara Jateng 2017 di Pati Istimewa

PATI. Parade seni dan budaya Kabupaten Pati dalam rangka memeriahkan Jumbara se Jawa Tengah berjalan sukses dan meriah. Ribuan warga Pati dan sekitarnya  begitu terhibur dan menikmati kemeriahan karnaval seni dan budaya yang melibatkan kelompok seni, sanggar seni,dan  sekolah sejumlah 30 kelompok peserta dari 35 kabupaten /Kota di Jawa tengah.

Berbagai kesenian tradisional seperti seni tari, cerita rakyat, pakaian adat, tradisi rakyat, di tampilkan para peserta yang tampil pada Rabu (26/07) kemarin. Diantaranya, adalah Seni Karawitan Juwana, Sanggar Kayen Tadah Udan, Pandu Gabus Studio Tari Kesuburan, Sanggar Pesantenan SD Sarirejo, Tari Topeng Kelono Joyo Soneyan Margoyoso, Laras Roso Jaken, Rampak Topeng Parenggan, Pencak Dukuhseti, larung sesaji sedekah Juwana dari Cah Juwana Pluralitas, dan sebagainya.

Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah peserta dari dukuhseti yang menampilkan mandeling. Nampak salah satu personilnya yang berusian diatas 60 th, berjoget dengan riang diiringi musik dan lirik lagu yang menggelitik. Riuh penonton dan tepuk tangan penonton berikan apresiasi pada salah satu penampil ini.

“Aku nggak mau kalah karo seng nom nom mas,” katanya, ketika diwawancarai reporter wartaphoto.net di sela-sela kirab.

Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, Sarpan mengatakan, parade budaya ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Jumbara dan Temu Karya Sukarelawan PMI Tingkat Jawa Tengah Tahun 2017 yang sudah mulai dilaksanakan sejak Sabtu (22/7) di Bumi Perkemahan Regaloh, Kecamatan Tlogowungu.

“Kebetulan ini sejalan dengan program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati dalam upaya pelestarian dan pembinaan seni budaya daerah. Karena itu selain 35 kabupaten kota yang tampil, kami juga mengikutsertakan berbagai kesenian lokal Pati dari berbagai sanggar seni dan sekolah se-Kabupaten Pati,” terangnya.

Sementara itu, Bupati Pati Haryanto, menyambut baik atas prakasa Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah menguri uri budaya yang kita miliki sekaligus menyambut kegiatan Jumbara dan Temu Karya sukarelawan se-Jateng.

“Kami tentu menyambut dengan senang sekaligus menghibur kepada masyarakat maupun yang nguri uri budaya yang di miliki masing masing daerah di Jawa Tengah khusunya Kabupaten Pati.  Mudah mudahan menghibur sekaligus mampu mempersatukan kekuatan yang ada di Kabupaten Pati, guyub rukun dengan seni kita bisa membangun yang ada di Kab. Pati,” Kata Haryanto

Lebih lanjut, Bupati yang akan kembali dilantik pada 22 Agustus 2017 untuk jabatan periode keduanya ini juga menyebutkan agenda mendatang.

“Insyaallah nanti 26 Agustus Juga diselenggarakan pawai pembangunan dan seni budaya yang diikuti hampir seluruh unsur di Kabupaten Pati. Baik dari perwakilan sekolah maupun instansi yang ada di Kab. Pati,” Terangnya.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Karnaval Memperingati Haul KH. Sholihul Munawwar  &  KH. Anas Sholih Langgenharjo Juwana
Budaya

Karnaval Memperingati Haul KH. Sholihul Munawwar & KH. Anas Sholih Langgenharjo Juwana

JUWANA. Acara haul Al Maghfurlahum KH. Sholihul Munawwar ke. 71 dan KH. Anas Sholih ke 38 Ds. Langgenharjo Juwana diperingati dengan beberapa agenda. Mulai dari kirab karnaval, tahlil umum hingga pengajian akbar.

Karnaval budaya diikuti oleh 39 peserta. Mulai dari drum band, senam, rebana, pecak silat, tongtek hingga peserta dari TPA dan madarasah. Nampak pula anggota Banser, Linmas, TNI, Polri, sibuk mengamankan jalanya acara karnaval.

Rombongan mulai bergerak mengelilingi desa sehabis Dhuhur. Masyarakat yang ingin melihat karnaval sudah memenuhi tepian jalan yang akan dilewati peserta karnaval. Cuaca  terik tidak menyurutkan niat masyarakat untuk melihatnya karena ini adalah acara tahunan yang sayang sekali jika  dilewatkan.

Tepat pukul  13.15 WIB, arak-arakan karnaval mulai berangkat dari depan masjid Al Munawwar hingga finish ditempat yang sama.

Uniknya, sepanjang jalan yang dilewati peserta, masyarakat secara sukarela menyediakan  air minum dalam kemasan supaya peserta tidak dehidrasi.

Wah ramai Mas, aku kok kudu guyu delok karnaval iki, wong lanang seng macak dadi wong wedok, kok Iso kemayu ngono, ngono iku latihane pirang dino,” kata seorang ibu  yang tidak mau ditulis namanya.

(wah ramai mas. Saya sampai tertawa terus melihat karnaval ini. Ada lelaki berperan seperti perempuan dan genit. Seperti itu latihannya berapa hari ya)

Setelah karnaval yang diadakan pada Sabtu (08/07), acara dilanjutkan  dengan tahlil umum di Makam KH. Sholihul munawwar & KH. Anas Sholih.

Esok harinya yakni Ahad (09/07) diadakan pengajian umum pukul  19.30 WiB hingga selesai di di halaman Pondok Pesantren Al Munawwar Langgenharjo Juwana. InsyaAllag akan dihadiri Sohibul Maulid Habib Syafiq dari Kudus & Penceramah yakni KH. Asnawi dari kudus.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Berita Acak