Kategori: Inspirasi Bisnis

Popular

Berita Terbaru

Permalink ke Penyandang Disabilitas Yang Jago Mengukir Ini Butuh Support Alat dan Listrik
Inspirasi Bisnis

Penyandang Disabilitas Yang Jago Mengukir Ini Butuh Support Alat dan Listrik

 

KAYEN – Menyandang disabilitas tak membuat Eko, warga Durensawit Kecamatan Kayen hanya berpangku tangan. Meskipun sudah mengalami lumpuh sejak usia lima tahun dan sempat putus asa hingga berfikir tak bisa berbuat apa-apa. Namun kini Eko mampu berkarya dengan ilmu yang ia dapatkan.

“Dulu untuk berjalan saja saya harus merangkak perlahan. Tapi Alhamdulillah kakek saya membuatkan tongkat dari kayu jati. Perlahan saya belajar jalan dengan menggunakan tongkat itu,” ujarnya.

Ia bercerita pada tahun 1994, sekitar umur 22 tahun juga pernah mengikuti kursus di yayasan penyandang disabilitas di Yogyakarta. Dari sanalah ia belajar banyak hal tentang kemandirian, ketrampilan dan ketahanan mental meskipun dalam kondisi apa adanya.

Tahun 1996 mengikuti program kursus ukir di Jepara. Di kota ukir itulah dia berusaha keras untuk membuat berbagai ukiran dari kayu jati.

Kini ketika sudah mahir dalam memahat dan banyak pesanan, Eko justru kekurangan dalam hal peralatan. Masih banyak peralatan ukir yang belum dimiliki sehingga dalam mengukir pun tidak bisa maksimal, apalagi ketika mendapatkan pesanan yang membutuhkan mesin.

“Saya belum punya mesin bubut, bahkan listrik saja saya masih numpang milik tetangga. Kalau saja saya punya listrik dan peralatan ukir yang memadai. Pastinya akan lebih mudah dan cepat dalam mengerjakan pesanan,” keluhnya.

Dia juga berharap agar Pemerintah Kabupaten Pati bisa memberikan bantuan kepadanya, terutama untuk memenuhi kelengkapan peralatan ukir dan listrik di rumahnya. Terlebih, hasil ukiran Eko Sutiyono sudah mulai dilirik banyak orang.

Reporter: Andi Putra

Editor: A. Muhammad

Permalink ke Mbak Fia, Wanita Muda Yang Sukses Jalani Profesi Dokter dan Bisnis Kuliner Bersamaan
Inspirasi Bisnis

Mbak Fia, Wanita Muda Yang Sukses Jalani Profesi Dokter dan Bisnis Kuliner Bersamaan

 

dr. Nurul Ummi Rofiah,M.H., dokter muda, owner The Martabak Juwana

JUWANA. Muda, energik, dan cantik adalah kesan yang nampak pertama kali jika Anda bertemu dengan dr. Nurul Ummi Rofiah,M.H. yang lebih akrab dipanggil Mbak Fia. Dokter muda yang berdinas di RSUD Rembang ini punya sisi unik. Selain menikmati pekerjaanya sebagai Dokter, Mbak Fia juga mengelola sebuah resto yang terkenal di Juwana yakni The Martabak Juwana.

“Awalnya dulu pas kecil, suka banget kalau diajak Bapak beli martabak di Juwana. Nah, pas kuliah ternyata  makin banyak referensi dan inovasi martabak yang ingin saya bikin sendiri yang khas saya. Kebetulan juga suka masak” tutur Mbak Fia, membuka cerita awal berbisnis kuliner.

Resto The Martabak Juwana yang nyaman untuk nongkrong ini beralamat di Jalan Juwana Jakenan Km 3 RT 1 RW 3 Desa KarangRejo, Juwana, Pati. Resto yang meski bernama The Martabak namun menunya lengkap. Tak hanya martabak, namun berbagai menu kuliner Ya intinya mulai dari hidangan pembuka (appetizer), makanan utama (main course), hingga hidangan penutup (dessert). Namun, salah satu andalannya adalah martabak ufo dengan lelehan es krim diatas toppingnya

Desain interior The Martabak Juwana memiliki karakter khas anak muda yang dilengkapi dengan beberapa lokasi photobooth ternyata didesainnya sendiri. The Martabak Juwana bahkan lebih banyak dikenal dari postingan para pengunjungnya di akun instagram the martabak juwana.

“Iya mas, aku desain sendiri. Kebetulan kan memang suka hunting kulineran dan berburu tempat-tempat nongkrong yang asik dibeberapa kota yang pernah aku tinggali. Salah satunya Shabu House Semarang kemudian aku otak atik mana yang cocok di The Martabak Juwana” katanya

Setelah menjalankan bisnis The Martabak Juwana ternyata Mbak Fia mulai mengembangkan bisnisnya ke The Martabak Cake yang menyajikan cake lezat, unik, variatif dengan harga terjangkau.

Foto: Instagram @Themartabakjuwana

Mbak Fia sendiri memiliki kakak kandung yang juga seorang dokter yakni dr. Nurul Uly Rosyidah yang lokasi praktiknya berada disebelah utara The Martabak Juwana.

Tapi apakah memang Mbak Fia dan saudaranya dokter semua? Ternyata tidak. Adiknya, yakni M.Badrul Rama sedang menempuh pendidikan di Jurusan Ekonomi.

Meski telah bekerja sebagai Dokter di RSUD Rembang dan berbisnis kuliner ternyata Mbak Fia tetap mengutamakan pendidikannya. Setelah lulus dari S1 Kedokteran UNISULA Semarang, dirinya juga telah lulus dari S2 Hukum UNTAG Semarang. Bahkan saat ini dirinya juga telah melanjutkan lagi ke S3 Hukum UNTAG.

Saat ditanya apakah tidak kerepotan membagi waktu antara profesi dan bisnisnya, Mbak Fia menjelaskan.

“Sama sekali tidak, Profesi Dokter itu pengabdian, Bisnis kuliner itu bagian dari hobi yang semoga mampu menopang biaya pendidikan S3 yang sedang saya jalani” kata Dokter Muda yang bercita cita suatu saat juga bisa menjadi Dosen ini.

 

Reporter: Arton, Zaenal

Editor: Revan Zaen

 

Permalink ke Inovasi Kopi Berbahan Sayur Okra Bercita Rasa Moka, Aman Buat Lambung
Inspirasi Bisnis, Komunitas, Pati

Inovasi Kopi Berbahan Sayur Okra Bercita Rasa Moka, Aman Buat Lambung

Muryati (Komunitas Pangan Sehat) Pati dengan karya serbuk biji okra

PATI – Setelah sukses dengan olahan teh daun kelor yang dibuat teh, kini komunitas Pangan Sehat (KPS) Kabupaten Pati  kembali meluncurkan inovasi lainnya. Kali ini mereka mengolah sayur okra menjadi kopi. Temuan ini diklaim memiliki manfaat yang tinggi bagi kesehatan.

Sayur okra sendiri memiliki berbagai macam kasiat bagi kesehatan, diantaranya  menstabilkan kadar gula darah, meringankan radang paru paru, sakit kerongkongan, ambeien, dan menetralkan asam lambung, sehingga komunitas ini tertarik untuk mengolahnya menjadi kopi. Bagi masyarakat Okra

Muryati, inovator kopi berbahan okra yang juga anggota Komunitas Pangan Sehat mengungkapkan, awalnya ia melakukan uji coba kopi berbahan dasar sayur okra ini kepada orang yang punya penyakit lambung.

“Hasilnya mereka tidak merasakan asam lambungnya naik. Sehingga kopi ini aman untuk dikonsumsi,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati, Minggu (9/7).

Muryati, memilah biji okra untuk diolah menjadi kopi okra

Cita Rasa Moka

Mengenai citarasa, kopi dari okra ini sebenarnya tidak ada perbedaan yang sangat mencolok dari produk kopi yang ada di pasaran. Hanya saja, kopi ini mempunyai rasa moka yang dominan. Sehingga kehadirannya bisa memperkaya pilihan rasa untuk para penikmat kopi.

“Rasanya lebih dominan ke moka. Jadi para penikmat kopi akan punya banyak pilihan rasa saat hendak menikmati kopi,” katanya.

Cara mengolah sayur tersebut hingga menjadi kopi juga cukup mudah. Pertama-tama, sayur okra dibiarkan menua di pohon sampai menjadi kering. Setelah kering kemudian baru dipetik dan dikupas.

Pengupasan buah okra kering sangatlah mudah, karena sudah pecah dan hanya diambil biji okranya saja. Biji okra inilah yang nantinya digoreng terlebih dahulu hingga menghitam, seperti proses pembuatan kopi biasa.

“Setelah digoreng, kemudian diblender menjadi tepung kopi okra. Setelah itu, kopi okra pun siap dikemas dan dipasarkan,” ringkasnya.

Reporter: Andi Putra

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Berawal Dari Melukis Background Ketoprak, Karya Lelaki Asal Raci ini Dikenal Hingga Bali
Budaya, Inspirasi Bisnis

Berawal Dari Melukis Background Ketoprak, Karya Lelaki Asal Raci ini Dikenal Hingga Bali

Menekuni dan menikmati hidup sebagai seniman tak mudah dijalani. Namun, jika keinginan tersebut dari hati dan sudah dijiwai tentu halangan sekalipun tetap dapat dinikmati. Mas Bedik, yang lebih dikenal dengan nama PunkNggonane Art adalah salah satunya. Seni lukis, desain interior hingga fotografi dipilihnya sebagai passionnya dan mulai digarap dengan sungguh-sungguh mulai 2008.

Lelaki yang tinggal di Desa Raci Kecamatan Batangan Kabupaten Pati memulai karirnya dari mengerjakan lukisan latar ketoprak yang biasa disebut dengan gleber.

“Kalau background layar ketoprak itu saya tekuni sekitar 4 tahun. Kebetulan mertua saya punya paguyuban ketoprak. Kala itu beliau membutuhkan seniman yang mampu melukis layar pementasan ketoprak. Namun ternyata tidak mudah mencari seniman lukis yang sesuai dengan keinginan dan standar beliau.” cerita Mas Bedik

“Akhirya saya mencoba melukis sesuai konsep yang diinginkan mertua saya. Awalnya saya ragu dengan media lukis yang sangat besar dan belum pernah saya buat sebelumnya. Namun, setelah saya kerjakan, mertua pun sangat puas dg hasilya.” lanjut Mas Bedik

Selain mengerjakan gambar latar ketoprak, Mas Bedik Juga mengerjakan desain interior dengan konsep unik dan desain sendiri. Ciri khasnya adalah memanfaakan Bahan limbah kayu. Dirinya selalu memberikan sentuhan khas pop art namun ada citarasa klasik modern sebagai ciri khas karya PunkNggonane Art. Sejumlah cafe dan resto di Pati dan rembang sudah banyak menggunakan jasanya untuk mendesaian interior atau melakukan make over tampilan cafe atau sekedar tempat ngopi. Tak jarang, tawaran make over interior rumah pun dikerjakannya.

Karena keunikan konsepnya ini pula, PunkNggonane Art selain di Kota Pati, juga merambah di berbagai kota lain seperti Pekalongan, Surabaya hingga Bali yang menggunakan jasanya.

Fotografi dan Terapi Otak


Salah satu kegemaran Mas Bedik selain melukis dan desain interior adalah fotografi. Baik Modelling maupun Pre Wedding.
“Awalnya fotografi ini saya tekuni untuk sekedar mengambil gambar kemudian saya lukis di media kanvas. Tapi ternyata hasil dari kamerapun ternyata menyenangkan dan menyegarkan. Bisa bikin terapi otak Juga lo Mas.  Apalagi pas Ada moment yang sesuai keinginan saya” terang Mas Bedik saat diwawancarai wartaphoto.net

Saat ditanya tentang mengapa karyanya selalu beda dan nyleneh, mas Bedik PunkNggonane Art menjawab singkat.

“Bagi saya, sebuah karya tidak ada batasnya” ucapnya, sambil menyeruput secangkir kopi panas.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Dara 18 Tahun Asal Dukuhseti Ini Serius Tekuni Hobi Tata Rias
Inspirasi Bisnis

Dara 18 Tahun Asal Dukuhseti Ini Serius Tekuni Hobi Tata Rias

DUKUHSETI. Termotivasi dari salah satu MUA yang terkenal di Indonesia. Dara cantik  asal Desa Alasdowo Kecamatan Dukuhseti, Pati ini mantab menekuni hobi tata rias.  Lina Zainatul Muna, atau kerap disapa Lina ini memang bercita cita menjadi seorang MUA (MakeUp Artis) yang profesional dan terkenal di seluruh Indonesia.
Dirinya tertarik di dunia kecantikan sejak duduk dibangku SD. Oleh karenanya, sejak SMP dia sudah mulai ikut salah satu sanggar rias pengantin. Tak hanya kursus, Lina juga telah memperdalam bakatnya di salah satu perguruan tinggi swasta yakni AKS Ibu Kartini Semarang dengan prodi Tata Rias Kecantikan-DIII.
Selain ingin menjadi MUA yang terkenal, semangat dan tekadnya untuk menjadi pengusaha muda di bidang bisnis online juga terus ia jaga. Di usianya yang baru menginjak 18 th Lia sudah mulai mengemban bisnis online-nya dengan berjualan makanan, hijab, bahkan jasa Makeup nya untuk mendapatkan penghasilan sendiri.
Berbagai foto2 makanan, hijab dan hasil makeupnya dia posting di berbagai media sosial. “Selain menjadi sosok MUA yg terkenal saya juga ingin menjadi pengusaha muda yg terkenal khususnya di bidang hijab dan makanan” ujar wanita muda ini.
Lina mengajak anak anak muda atau remaja sekarang tidak hanya berpangku tangan tetapi harus berfikir secara kreatif dan inovatif.
Apabila semua remaja di indonesia mempunyai fikiran dan semangat yang seperti itu. InsyaAllah Negara Indonesia akan menjadi negara yang maju dan mampu bersaing di era pasar bebas.
Reporter: A. Muhammad
Editor: Revan
Permalink ke Hobby Melukis Sketsa, Mengantarkannya Tetap Bisa Kuliah
Inspirasi Bisnis

Hobby Melukis Sketsa, Mengantarkannya Tetap Bisa Kuliah

Nailis Su’udah dengan jasa menggambar sketsa, mampu membantu biaya kuliahnya

Dukuhseti. Hidup dalam keluarga yang sederhana tak mengurungkan niatnya untuk berhenti menuntut ilmu. Kisah , gadis kelahiran 21 Oktober 1994 asal Desa Grogolan Kecamatan Dukuhseti ini membulatkan tekadnya untuk tetap kuliah demi meraih cita-citanya sebagai guru. Uniknya gadis yang akrab dipanggil Nely ini sedikit terbantu biaya kuliahnya dari hasil jasa menggambar sketsa.

Lika liku kehidupannya untuk tetap kuliah cukup berat. Namun Nely tetap bersemangat. Sejak lulus dari Madrasah Aliyah Keagamaan ( MAK YAPIM ) tahun 2012 silam memang Nely tak langsung melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya, namun dia harus bekerja dulu di toko kain selama 2.5 tahun.
Setelah dirasa cukup tabungan barulah mendaftar kuliah di STAI Pati dan sambil kerja dirumah dosennya beberapa bulan. Namun, karena suatu hal akhirnya memutuskan keluar dan kembali lagi ke toko kain selama 5 bulan. Keinginannya untuk tetap bisa kuliah diutarakan karena pemilik toko. Namun karena toko sangat ramai, Nely tidak diperbolehkan kerja part time ( kerja dan kuliah). Akhirnya Nely memutuskan keluar dari toko dan kuliah kembali, dengan biaya tabungan saat kerja.
Sembari itu, dirinya menekuni jasa menggambar sketsa.  Hasil pekerjaan yang berawal dari hobinya ini untuk membiayai kuliahnya. Dirinya tidak mau hanya mengandalkan uang dari orang tuanya.
“Alhamdulillah dari hasil sket bisa sdikit membantu biaya kuliah mas, setidaknya untuk uang saku dan keperluan saya sudah cukup, yang penting saya harus kerja keras supaya tetap bisa kuliah..” ucap Nely  disela-sela menggambar.

Salah satu hasil gambar sketsa Nely

Puluhan gambar sketsa sudah dihasilkan. Rata-rata biaya sket / lembar hanya dibandrol 70rban. “Kalau dilayani ya banyak mas, tapi nanti waktu saya belajar berkurang, masih lagi memberikan les dirumah saya bagaimana, ya saya batasi sebulan 5 lembar saja, agar masih bisa santai bersama teman-teman..”
Saat ditanya Wartaphoto Kenapa menyukai sketsa, bukan yang lainya, gadis cantik berjilbab ini menjawab.
“Sket itu mengajari kita untuk sabar akan sebuah keberhasilan dan hasilnya bisa membahagiakan orang lain karena menggambar sketsa itu butuh ketenangan menggunakan parasaan.” Ungkapnya
Selain jago menggambar, ternyata Nely juga memiliki prestasi di bidang lainnya yakni pidato bahasa arab dengan hasil gemilang. Nely tercatat juara 2 pidato bahasa arab selama dua tahun berturut-turut dalam Porseni Olimpiade dan Konfercab lX PC IPNU-IPPNU Pati yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.
Reporter: Muhammad Ulil
Editor:  Revan
Permalink ke Kisah Inspiratif Pengusaha Olahan Kelor Sukses Asal Kedungbulus Gembong
Inspirasi Bisnis, UMKM, wartaphoto

Kisah Inspiratif Pengusaha Olahan Kelor Sukses Asal Kedungbulus Gembong

Teh Kelor kaya manfaat kreasi dari CV. Mahakarya Mulya

Gembong. Dunia tak selebar daun kelor, namun karena daun kelor, pasangan pengusaha ini bisa ke berbagai daerah.  Rusmani (44th) dan Muryati (41th) adalah pasangan suami istri yang sukses berbisnis olahan pangan berbahan daun kelor. Karena inovasi pangan berbasis kelor ini pula mereka sering dikirim untuk lomba dan kompetisi pangan diberbagai daerah. Dan hampir hampir tidak pernah meleset selalu mendapat penghargaan.

“Ya seperti itu lah kira-kira mas. Karena memang olahan daun kelor salah satu potensi lokal yang kaya nutrisi. Bahkan kandungan nutrisinya melebihi susu dan buah. Khasiatnya juga luar biasa. Penyakit ringan seperti  asam urat, pegel pegel bisa teratasi dengan daun kelor ini secara rutin. Begitu juga dengan kecing manis, liver. asal rutin mengonsumsi kelor namun tetap dengan pantangan-pantangan tertentu” Jelas Muryati.

Berdiri dengan nama CV. Mahakarya Mulya di  Desa Kedungbulus Rt1/Rw1 Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Rusmani dan Muryati mampu menyerap tenaga kerja hingga 150 orang.

“Ya tapi kalau ditanya beraapa jumlah pekerja saya ya cuma ada dua. Laki dan perempuan” Katanya sambil bercanda.

CV Mahakarya sendiri selain fokus di olahan kelor seperti mie kelor, nasi kelor, dodol kelor, coklat kelor, dan teh kelor juga mengembangkan usaha dibidang lain. Usaha budidaya lele sehat, sayur sehat, warung makan sehat, dan pembuatan bantal guling dari limbah garmen.

“Ya punya karyawan segini kalau beli sayuran terus ya boros mas. Ini tiap hari kalau mau masak tinggal metik. Mau lauk tinggal ambil. Sambil kerja, sambil berkreasi, sambil refresing” lanjutnya.

Usaha berbasis daun kelor ini ketika pertama kali dirintis sempat dicibir warga karena biasa untuk pakan kambing.

“Saya ya pede saja mas. Saya sudah browsing tentang manfaat kelor dan ternyata luar biasa. Sedari kecil saya memang sudah dikenalkan dengan kelor oleh orang tua saya dan ternyata kami sekeluarga sehat sahat saja. Makanya, saya dan suami begitu memutuskan berwirausaha di bidang olahan pangan ya langsung memutuskan berbahan daun kelor” lanjutnya.

Kini, berbagai peneliti, UMKM, bahkan mahasiswa yang sedang penelitian hilir mudik ke tempat usahanya.

salah satu sudut kolam lele sehat milik Rusmani dan Muryati

Jatuh Bangun

Pasutri yang menikah pada tahun 1996 ini mengaku pernah memiliki usaha yang terbilang sukses pada tahun 1998. Setelah menikah, uang tabungan mereka berdua dikumpulkan untuk modal membuat usaha makanan ringan dan sari buah bernama UD. Mawar Indah. Berkat ketekunan mereka, usaha yang didirikannya tersebut bisa dengan pesat berkembang. Tidak hanya pasar lokal Pati saja, tetapi luar kota juga banyak yang memesan produknya. Tak hanyal mereka mampu mengerjakan 150 karyawan pada saat itu.

“Saya dan suami dari dulu memang lebih suka berwirausaha. Sehingga setelah menikah kita memutuskan membuat usaha makanan ringan dan sari buah. Pada saat itu tidak hanya menekuni dunia makanan, tetapi juga peternakan dan pertanian,” kenang Muryati.

Tetapi setelah sukses dalam bisnis tersebut, pada tahun 2004 usaha meraka mengalami badai yang sangat luar biasa besar. Hal itu dikarenakan 1,2 milyar rupiah uang mereka hilang karna menanam saham di perusahaan swasta.

“Setelah usaha saya gulung tikar, kita sekeluarga benar-benar jatuh miskin. Bahkan untuk makan sehari hari saja saya harus hutang diwarung,” ungkap Muryati Ibu dari Wahyu, Bintang Sekar, dan Surya.

 

Seiring berjalannya waktu usaha pengolahan limbah garmen miliknya pun mulai bangkit kembali. Sekarang usaha meraka mampu menjangkau pasar hampir diseluruh Jawa Tengah. Tak hanya itu pasar internasional seperti Malesia, Brunai, Hongkong, dan Pakistan pun mulai dirambah.

“Kalau pasar lokal mereka kebanyakan mintanya produk kapas mentah untuk pengganti dakron dan kapuk.  Sedangkan kalau pasar luar negeri mintanya produk jadi seperti bantal, kasur lantai, boneka dan lainya,” ujarnya.

Setiap hari pabrik pengolahan limbah garmennya pun mampu memproduksi kurang lebih 2 ton kapas, sehingga dalam satu hari ada tiga shift kerja. Mereka pun berharap kedepan bisa menambah mesin lagi agar produksi kapasnya bisa meningkat.

“sekarang mesin kami hanya dua, kedepan kita akan berusaha menambah mesin lagi agar bisa meningkatkan produksi,” harapnya.

Pesutri ini pun berpesan kepada kawula muda jika mau menjadi pengusaha harus selalu bersikap sadar dan selalu berfikiran positif. “Jangan takut untuk memulai suatu usaha meskipun dengan modal seadanya. Modal utama bukanlah uang melainkan tekat dan kemauan,” pesan Rusmani

 

 

Berita Acak