Kategori: Komunitas

Permalink ke Ngetril Bareng 17-an Tugu Peluru Gabus, Napak Tilas Rute Bersejarah di Medan Ekstrim
Komunitas, Pati

Ngetril Bareng 17-an Tugu Peluru Gabus, Napak Tilas Rute Bersejarah di Medan Ekstrim

PATI – Dalam rangka memeriahkan HUT ke 72 Republik Indonesia, pemuda Desa Tanjunganom, Gabus, Pati bersama Gema Palapa memilih menggelar “Ngetril Bareng 17-an Tugu Peluru”, Minggu (20/08). Mereka mengambil rute di seputaran pegununan kendeng yang ekstrim namun bersejarah.

“Tidak hanya ngetril, kita juga mengenalkan sejarah tugu peluru di kecamatan Gabus. Maka dari itu kita mengambil start disana. Selain itu rute yang dilalui trabaser juga merupakan rute yang digunakan para pahlawan dijaman dahulu,” ungkap Bambang Sulistiyono, Ketua Panitia

Kegiatan yang diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah tersebut juga mengambil rute yang pada jaman dahulu menjadi rute gerilya bagi para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Panitia trabas sengaja memilih puluhan titik ekstrim supaya adreanalin trabaser makin terpacu untuk menaklukkannya.  Syahdan, sejumlah peserta akhirnya tidak bisa melewati halangan sudah dipersiapkan panitia.

 

“Bahkan para peserta harus kembali ke start awal karna sulitnya medan. Tetapi bagi trabaser yang sudah berpengalaman medan ini malah sangat menyenangkan,” tukas Bambang.

Disebutkan pula, event yang berkerjasama dengan berbagai pihak tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dikalangan para pecinta trail.

 

Bambang berharap, semoga dengan digelarnya event trabas di tugu peluru yang merupakan monumen perjuangan di Kecamatan Gabus ini bisa mengembalikan jiwa nasionalisme masyarakat.

“Tugu peluru ini adalah monumen perjuangan, dengan event ini paling tidak masyarakat bisa tahu tentang sejarah tugu peluru dan rute perjuangan para gerillia dalam melawan penjajah,” harapnya.

Reporter: Andi Putra

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Sambut Bersih Desa Ngablak, Pemuda KOMPAK Adakan Bazar Jajanan “Peken Sonten”
Komunitas

Sambut Bersih Desa Ngablak, Pemuda KOMPAK Adakan Bazar Jajanan “Peken Sonten”

Dukuhseti. Dalam rangka menyambut bersih desa dan sedekah bumi desa Ngablak Kecamatan Cluwak, sekelompok pemuda yang mengatasnamakan KOMPAK ( Komunitas Pemuda Kreatif ) membuat acara unik. Mereka mengadakan bazar jajanan tradisional yang bertajuk Peken Sonten (Pasar Sore) pada Jumat hingga Senin (4-7 Agustus 2017 ).
Acara yang dilaksanakan di ruko utara pasar Ngablak ini dibuka pada pukul 16:00 WIB hingga pukul 22:00 WIB.Puncak acara sedekah Bumi Desa Ngablak dijadwalkan digelar pada Rabu (09/08).
Menurut Andang Gigih panitia KOMPAK, acara ini bertujuan untuk mengenalkan kepada Masyarakat dan khususnya anak-anak yang sekarang sudah sangat jarang untuk mengetahui serta mencicipi jajanan tempo dulu. Selain itu sekaligus memberi kesempatan kepada pedagang pasar untuk berjualan pada sore hari.
“Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kembali jajanan pasar, jajanan tempo dulu yang sudah mulai langka ditemukan, yang mungkin anak-anak sekarang tidak tahu bentuk dan rasanya.
Selain tujuan tersebut, bagi Andang, kegiatan ini memiliki maksud supaya pemuda KOMPAK
ssaling belajar menyelenggarakan event-event selanjutnya agar lebih t ertata.
“Semoga ide-ide kreatif pemuda Ngablak menjadi tersalurkan,” ucap Andang.
Selain Bazar jajanan tradisional, panitia juga menyajikan beberapa kegiatan menarik lainya diantaranya adalah pentas seni, photobooth, live akustik serta lomba mewarnai.
Harapanya dengan diadakan acara ini agar bisa mempersatukan seluruh pemuda Ngablak, lebih kreatif dan menyalurkan kreatifitasnya kepada hal yang positif.
” Ya intinya kami ingin menghadirkan suasana baru. Agar pedagang jajanan tradisional tidak dilupakan walau jaman sudah maju,” pungkasnya.
Reporter: A. Muhammad
Editor: Revan Zaen
Permalink ke Rangsang Budaya Baca, Sekelompok Pemuda Dirikan Ruang Literasi Juwana, Sebuah Perpustakaan Jalanan
Komunitas, Pati

Rangsang Budaya Baca, Sekelompok Pemuda Dirikan Ruang Literasi Juwana, Sebuah Perpustakaan Jalanan

JUWANA. Sekelompok anak Juwana yang peduli dengan menurunnya minat baca mayarakat mengadakan perpustakaan keliling atau tuang baca buku gratis yang dinamakan ruang literasi Juwana. Mereka adalah Rizqi, Dimas, Danang, Agus, Septian, Puswanto, Kristy Dan prepty. Tujuannya adalah kembali membumikan minat baca warga Juwana.

“Komunitas ini berawal dari perkawanan sambil ngopi sama temen temen. Saya ada ide membentuk semacam gerakan listerasi untuk Kota Juwana. Kebetulan para pegiat literasi ini semuanya memiliki hoby yang sama yaknimembaca buku. Tentu saja dibarengi dengan kegemaran kami sering diskusi, bedah buku sambil ngopi,’ kata Rizqi Bagus, pegiat Ruang Literasi Juwana.

Istilah literasi jika dilihat dari arti atau maknanya adalah kemampuan analisis dan pemahaman melalui banyak media seperti membaca, menulis, lisan, berdiskusi, berekspresi, dan olah pikir.

Saat ditanya reporter wartaphoto.net mengapa dinamakan ruang literasi juwana, Rizqi Bagus mengungkapkan alasannya.

“Sederhana saja, bahwa kami ingin menciptakan gerakan listerasi melalui wadah atau ruang di Kota Juwana yang kami tujukan kepada seluruh komponen masyarakat Juwana” ujar Rizqi.

Dengan tujuan, Lanjut Bagus, meningkatnya minat baca, masyarakat, membudayakan masyarakat membaca bagi masyarakat juwana, membawa pengaruh perubahan dan pembaharuan positif di Juwana.

“Alhamdulillah gagasan ini akhirnya terlaksana. Kami bekerja sama dengan perpustakaan Sidomukti Bakaran Wetan, juga temen temen yang masih sekolah akhirya kami mendapat banyak buku untuk dibaca,” imbuh Rizqi.

Berbagai jenis buku bacaan tersedia dari anak2, umum atau dewasa, semisal buku jenis dongeng, novel, sastra dan berbagai buku lainnya tersedia dan bisa dibaca warga.

Spot Tertentu

Beberapa tempat yang kami pilih diantaranya tugu krisna atau proliman saat sore hari. Kemudian di Alun-alun Juwana saat pagi hari saat akhir pekan. Dua tempat itu adalah tempat yang ramai dan sering dijadikan tempat nongkrong warga Juwana.

“Harapan kami dengan adanya ruang literasi Juwana ini, kami bisa memperoleh dukungan seluruh masyarakat juwana, keberadaan kami diterima, mereka menjadi gemar membaca dan berdiskusi bersama sama kami di perpustakaan jalanan.Itu poinnya” Ujar Rizqi Bagus.

Menurutnya, membaca adalah salah satu upaya untuk olah pikir untuk memajukan dimensi intelektualitas dan integritas Kota Juwana. Terang mahasiswa semester V Jurusan Teknik Elektro Universitas Teknologi Yogyakarta

Salah seorang pengunjung yakni Bu Yayuk bersama puteranya nampaknya sangat menikmati fasilitas membaca gratis ini.

“Wah ini bagus mas, tiap minggu saya sering ke alun-alun Jjuwana, sambil baca buku gratis nganteriin anak saya baca buku sehabis main, semoga berlanjut, nggak mandek di jalan,” harapan Bu Yayuk.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Inovasi Kopi Berbahan Sayur Okra Bercita Rasa Moka, Aman Buat Lambung
Inspirasi Bisnis, Komunitas, Pati

Inovasi Kopi Berbahan Sayur Okra Bercita Rasa Moka, Aman Buat Lambung

Muryati (Komunitas Pangan Sehat) Pati dengan karya serbuk biji okra

PATI – Setelah sukses dengan olahan teh daun kelor yang dibuat teh, kini komunitas Pangan Sehat (KPS) Kabupaten Pati  kembali meluncurkan inovasi lainnya. Kali ini mereka mengolah sayur okra menjadi kopi. Temuan ini diklaim memiliki manfaat yang tinggi bagi kesehatan.

Sayur okra sendiri memiliki berbagai macam kasiat bagi kesehatan, diantaranya  menstabilkan kadar gula darah, meringankan radang paru paru, sakit kerongkongan, ambeien, dan menetralkan asam lambung, sehingga komunitas ini tertarik untuk mengolahnya menjadi kopi. Bagi masyarakat Okra

Muryati, inovator kopi berbahan okra yang juga anggota Komunitas Pangan Sehat mengungkapkan, awalnya ia melakukan uji coba kopi berbahan dasar sayur okra ini kepada orang yang punya penyakit lambung.

“Hasilnya mereka tidak merasakan asam lambungnya naik. Sehingga kopi ini aman untuk dikonsumsi,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati, Minggu (9/7).

Muryati, memilah biji okra untuk diolah menjadi kopi okra

Cita Rasa Moka

Mengenai citarasa, kopi dari okra ini sebenarnya tidak ada perbedaan yang sangat mencolok dari produk kopi yang ada di pasaran. Hanya saja, kopi ini mempunyai rasa moka yang dominan. Sehingga kehadirannya bisa memperkaya pilihan rasa untuk para penikmat kopi.

“Rasanya lebih dominan ke moka. Jadi para penikmat kopi akan punya banyak pilihan rasa saat hendak menikmati kopi,” katanya.

Cara mengolah sayur tersebut hingga menjadi kopi juga cukup mudah. Pertama-tama, sayur okra dibiarkan menua di pohon sampai menjadi kering. Setelah kering kemudian baru dipetik dan dikupas.

Pengupasan buah okra kering sangatlah mudah, karena sudah pecah dan hanya diambil biji okranya saja. Biji okra inilah yang nantinya digoreng terlebih dahulu hingga menghitam, seperti proses pembuatan kopi biasa.

“Setelah digoreng, kemudian diblender menjadi tepung kopi okra. Setelah itu, kopi okra pun siap dikemas dan dipasarkan,” ringkasnya.

Reporter: Andi Putra

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Ultah Ke 3, Komunitas Foto Juwana Pamerkan 30 Foto Terbaik di Taman Krisna
Komunitas

Ultah Ke 3, Komunitas Foto Juwana Pamerkan 30 Foto Terbaik di Taman Krisna

 

JUWANA – Meski media sosial bisa menjadi cara mudah untuk menampilkan karya fotografi. Pameran foto masih menjadi metode yang paling digemari oleh para fotografer di Kabupaten Pati untuk memamerkan hasil jepretannya.  Hal itu terlihat oleh salah satu komunitas fotograsi di Kabupaten Pati yaitu Komunitas Fotografi Juwana (KFJ) saat mengadakan pameran di Taman Kresna Juwana, Minggu (11/6) kemarin.

Dalam pameran yang juga untuk memperingati ulang tahun ke 3 komunitas tersebut. 30 karya foto dari 28 fotografer yang berasal dari Juwana, Pati, Kudus, dan Rembang pun ditampilkan.

“Taman krisna adalah tempat tongkrongan anak Muda, untuk jagong, ngopi. Merupakan lajur paling ramai dilalui warga juwana waktu sore. Itulahpertimbangan pemilihan tempat pameran kali ini. Alhamdulillah sambutan warga juwana baik sekali. Nggak kalah juga respon anak anak muda dalam acara ultah KFH kali  ini.” Imbuh Jarwo Eko Kristiyanto

Jarwo Eko Kristianto, yang juga Ketua KFJ mengatakan dalam pameran ini pihaknya menampilkan berbagai genre foto dari berbagi fotografer terbaik. Karna setiap foto yang dikirim sebelumnya dipilih dahulu.

“Banyak yang mengirim foto, tapi kali ini kita hanya mengambil 30 foto terbaik untuk bisa mengikuti pameran,” ujarnya.
Lanjutnya, dalam acara yang akan berlangsung dua hari tersebut. Komunitasnya juga mengadakan berbagai kegiatan lainnya, mulai dari parade band akustis, bakti sosial, dan memfoto model bersama.

“Ada juga kegiatan bagi takjil, selain itu yang ditunggu para fotografer adalah saat pemotretan model karena ada beberapa model terkenal yang kami undang,” ungkapnya.

Model yang dimaksud adalah Aivia Valentina (Salatiga), Aryda (kudus), Ayu (juwana), Lian Sundari (Semarang).

Acara dilanjut setelah taraweh. Acara di mulai dengan pemotongan tumpeng, dipandu ketua KFJ yang potongan pertamanya diberikan kepada yang tertua KFJ yaitu Anwar Nugroho Jarkoni.  Selanjutnya diisi live akustik, yang diisi kalangan anak muda dari SMP 3 Juwana. Sambil lihat musik, dengarkan lagu, para penonton antusias melihat pameran poto dan selfie di foto booth yang disediakan panitia.

Mas potone apik apik, ngene iki carane pie ya? Tanya Agung Salah Satu anak SMP pad Admin KFJ.

“Gabung saja dek di KFJ nanti kita sinau bareng soal fotografi. Pakai kamera DSLR atau HP nggak masalah” Jawabnya

Sementara itu, Nugroho sesepuh fotografer di Juwana mengungkapkan sangat mengapresiasi dengan apa yang di buat oleh anak-anak muda yang tergabung dalam KFJ.
“Semoga kedepan KFJ bisa tambah solid, dan yang terpenting adalah bisa berguna bagi masyarakat banyak melalui berbagai kegiatan yang diadakannya,” harapnya.

 

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Asiknya Ngabuburit Dengan Pelatihan Membatik Khas Bakaran
Budaya, Komunitas

Asiknya Ngabuburit Dengan Pelatihan Membatik Khas Bakaran

peserta pelatihan teknik membatik fokus mengikuti arahan instruktur

JUWANA. Bertempat di ula ds bakaran wetan, generasi peduli batik bakaran menggagas pelatihan teknik membatik th 2017. Kali ini mereka bekerja sama dengan pengusaha batik bakaran wetan, karang taruna, dan Ansor.

Cristyanto Hendra, Salah satu desainer busana pengantian kenamaan turut menjadi peserta dalam acara pelatihan membatik

Dalam acara bermuatan pelestarian budaya sekaligus ngabuburit ini diikuti 31 warga bakaran, 9 luar daerah. Diantara mereka ada yang berprofesi sebagai  ibu rumah tangga, pelajar, bahkan desainer busana pengantin kenamaan yakni Cristiyanto Hendra turut hadir dalam acara tersebut.

Kegiatan ini tidak sekali jadi namun bertahap sebagaimana wajarnya sebuah proses membatik yang sesungguhnya. Diawali tanggal 28 Mei design pola, 4 juni pecantingan, 11 juni pewarnaan, dan 18 juni finishing batik. Berbagai pola diajarkan dalam pelatihan tersebut. Mulai dari motif lawasan batik bakaran al, Magel Ati,  Sekar Jagad, Limaran, Manggaran, Kawung, Liris, Kopi Pecah, Gandrung, dan Rawan.

Pembuatan pola pun tak sembarangan. Mereka sudah membuat perencanaan pembuatan pola pakaian yang akan dibuat terlebih dahulu, kemudian baru mengatur pola batiknya. Hal ini dikarenakan hasil akhir batik bisa di Bawa pulang tiap peserta.

Heru, pelatih pembuatan teknik membatik bakaran ini mengatakan bahwa ide pelatihan ini berawal dari rasa keprihatianan warga bakaran.

para peserta akan menjalani sejumlah tahapan membatik hingga batik selasai dan bisa dibawa pulang

 

“kenapa anak muda kok rata-rata tidak tahu proses membatik dari awal sampai akhir. Paling tidak supaya generasi muda ini mencintai budaya sendiri dan mengembangkan ke usaha. Karena saat ini di daerah lain pelaku usahanya anak muda yang lebih luwes metode penjualannya” kata heru

Salah satu peserta yakni Maria asal malang yang mengatakan kekagumannya.

“Bagus banget, menumbuhkan kecintaan ke budaya batik. Jadi terharu, ribet, njlimet, berhari hari.  Maka kalau harganya mahal ya maklum karena memang prosesnya lama dan tidak mudah. kata wanita yang kini tinggal di trangkil.

“Dan ternyata uniknya dari batik bakaran ini ada corak daerahnya, tidak asal menggambar. Ada bandeng, ada udang semuanya ada arti dan ciri khas daerah dimana batik tersebut diciptakan.

 

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Mefiana, Calon Bidan Yang Jago Karate Ini Jatuh Cinta Pada Dunia Modeling
Komunitas

Mefiana, Calon Bidan Yang Jago Karate Ini Jatuh Cinta Pada Dunia Modeling

Mefiana Desy Safitri saat hunting bareng Komunitas Foto Juwana di The Martabak Juwana

DUKUHSETI. Dara manis kelahiran Desember 1999 ini asli  Desa Srebut Kec.Dukuhseti Kab.Pati. nama lengkapnya. Putri Sulung dari dua bersaudara ini baru saja menyelesaikan pendidikan di SMK Telkom AKN Marzuqi. Tekatnya untuk menjadi bidan dibuktikan dengan melanjutkan pendiikan di bidang kesehatan yakni Akbid Duta Dharma Pati.

“Iya mas, sudah diterima kok, nanti September mulai perkuliahan” Ucapnya.

Mefiana, panggilan akrabnya ternyata memiliki hobi karate. Pada 25 oktober 2016 dirinya juara 3 katak putri kejuaran karate Tingkat kabupaten Pati. Meski menyukai olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik namun dirinya sebagaimana gadis pada umumnya juga suka difoto.

“Umur 15 taun saya mengikuti foto kontes online tapi sayang tidak mendapat juara. Tetapi saya tidak putus asa ,saya mencoba kembali untuk yang kedua kali dan ketiga kali hingga saya akhirnya mendapatkan juara 1”. Cerita Mefi.

Mefiana Desy Safitri on cam

Dari situlah beberapa anggota keluarganya mendukung kalau dirinya lebih cocok menjadi model. Kemudian dirinya mencoba untuk berfoto di studio foto dan hasilnya ternyata bagus.

“Dari situ saya mulai menyukai modelling. Terkadang saya diajak fotografer dari komunitas untuk jadi talent. Asal waktunya pas ya saya mengiyakan” sambungnya.

Ditanya apakah memilih modelling atau bidan, Mefiana tegas tentukan pilihan.

“Karena bidan profesi yang mulia, saya pilih bidan, meski tetangga juga sering bilang kalau saya lebih cocok mejadi seorang model. Menjadi bidan itu cita cita saya sejak kecil”  katanya.

Mefiana Desy Safitri, calon bidan yang jatuh cinta dengan dunia modelling

Mengapa Bidan?

“karena saya ingin menjadi wanita yang mempunyai kepandaian menolong dan merawat orang melahirkan , menyelamatkan bayinya. Tentu saja dengan niat membantu masyarakat dengan tulus, ikhlas dan sepenuh hati” Pungkas Mefi

Reporter: Zaenal

Editor: Revan Zaen

Permalink ke Ratusan Pecinta Vespa Pati Konvoi Bareng, Edukasi Tertib Berlalulintas
Komunitas

Ratusan Pecinta Vespa Pati Konvoi Bareng, Edukasi Tertib Berlalulintas

PATI – Ratusan pencinta skuter (Vespa) kelilingi  jalanan di Kabupaten Pati, Minggu (21/5) kemarin. Tema yang diusung kali ini adalah Pati Mods May Day 2017 yang mengusung misi  mengkampanyekan tertib berlalulintas di kalangan pengendara Vespa.

Wahyu, Panitia Pati Mods May Day 2017 mengungkapkan, acara yang digagas oleh teman-teman dari vespa Pati tersebut adalah ajang kumpul bagi pecinta motor vespa Se-Karisidenan Pati.

“Sebenarnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja event Mods May Day sudah sering diadakan. Dan kali ini juga ingin mengadakannya di Pati,” ujar Wahyu

 

“Kita ingin mengedukasi lebih dalam lagi tentang perayaan Mods Mayday yang diadopsi dari Inggris ke masyarakat Indonesia khususnya Pati dan sekitarnya. Selain itu kita juga mengkampanyekan budaya tertib berlalulintas,” ungkapnya.

“Di Kabupeten Pati sendiri jumlah pecinta motor vespa sangat banyak sekali. Sehingga dengan berkumpul seperti ini kita juga bisa mengedukasi tentang ketertiban berlalulintas,” pungkasnya.

Meski awalnya di negaranya sendiri (Inggris), Mods Mayday dibuat untuk para pekerja. Seiring berjalannya waktu, kultur ini makin digemari kalangan anak-anak muda. Karena di Mods Mayday menyangkup beberapa elemen dari musik, fashion, dan skuter.

Dirinya berharap, kedepan event ini bisa diadakan kembali dengan skala yang lebih besar lagi. Mengingat pecinta motor vespa jumlahnya juga sangat banyak.

Sementara itu, peserta Pati Mods May Day 2017, Toni menambahkan, dirinya sengaja sudah mempersiapkan vespa miliknya jauh hari sebelumnya untuk mengikuti event ini.

“Sebelumnya saya sudah mempersiapkan vespa saya agar sesuai dengan peraturan berlalulintas. Sehingga dengan memberikan contoh seperti ini, bisa mengajarkan anak muda yang baru mengenal vespa untuk juga tertib berlalulintas,” kata pungkas Toni

 

Reporter: Andi Putra

Editor: Revan Zaen

Permalink ke PAC Ansor dan Banser Satkoryon Juwana Donor Darah “Seluruh Tetesan Darah Kami Untuk NKRI”
Komunitas

PAC Ansor dan Banser Satkoryon Juwana Donor Darah “Seluruh Tetesan Darah Kami Untuk NKRI”

Kegiatan donor darah Banser dan Ansor Juwana.

Juwana. Keluarga besar NU Juwana mengadakan bakti sosial berupa donor darah. Sebagai panitia pelaksana adalahPAC Ansor Juwana dan Banser Satkoryon Juwana pada Minggu 12/03 kemarin. Agenda yang diadakan di Gedung Haji Juwana ini mengambil tema “seluruh tetesan darah kami persembahkan untuk NKRI”.

Hiburan musik dari lintas komunitas

Acara yang digelar sejak pukul 08.00 WIB ini diselingi juga hiburan musik dari berbagai komunitas.

“Ada 6 band dari lintas komunitas yang turut serta memeriahkan acara donor darah ini. Kita sengaja melibatkan seluruh elemen yang ada, baik dari komunitas vespa, musik, untuk bersama sama menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat umum” Ujar Tomo, Ketua Transisi PAC Ansor Juwana.

Tercatat, 98 sukarelawan mendonorkan darahnya. Selain dari ranting ranting ansor juwana, banser ada juga masyarakat umum yang turut mendonorkan darahnya. Kesuksesan penyelenggaraan acara ini menginisiasi Ansor untuk kembali mengadakan agenda donor darah per 6 bulan sekali.

panitia penyelenggara bakti sosial ” seluruh tetesan darah kami persembahkan untuk NKRI”

Samudi,  komandan banser Juwana ditemui reporter wartaphoto.net mengungkapkan kebanggaannya.

“Saya bangga dengan Ansor yang baru kali ini mengadakan donor darah. Saya juga turut donor darah tadi, semoga bermanfaat bagi saudara kita yang membutuhkan” Katanya.

Selain acara donor darah akan diadakan pula turnamen futsal antar ranting di Juwana. Yang intinya kami ingin menunjukkan bahwa Banser dan Ansor selain aktif di kegiatan keagamaan juga aktif pada kegiatan sosial kemanusiaan.

 

reporter: Arton

penyunting: Revan Zaen