Home Archive by category Kudus

Kudus

Komunitas Kudus

1st Anniversary ICSF (Indonesian Calya Sigra Family) Chapter K-Muria Berbagi Kebahagiaan dengan Menyantuni Anak Yatim

KUDUS. Komunitas Automotive Toyota Calya dan Daihatsu Sigra Chapster K-Muria memang baru terbentuk satu tahun lalu. Tepatnya 21 Januari tahun 2017. Namun persaudaraan dan kekeluargaan yang terbentuk tak menunjukkan seperti baru saja 1 tahun terbentuk tapi seperti sudah bertahun tahun.

“Di komunitas ICSF , tiap kali ada agenda acara,  kami mengajak keluarga seperti istri,  anak, ayah,  ibu, keponakan dan lain sebagainya. Selain Kopdar Silahturahmi, kami juga mengadakan kopdar rekreasi, oprek keilmuan dibidang automotive,  kegiatan sosial, serta kegiatan yang bermanfaat lainnya,” kata Syahrial Aman, Ketua ICSF K Muria.

Agenda 1st Aniversary ICSF dimaknai sebagai wujud persaudaraan dan kebersamaan berbagai chapter yang hadir dan bergabung. Diantaranya chapter Semarang Raya,  chapter Jogja, Chapter Ngapak dan Chapter Pantura.

Syahrial menambahkan bahwa salah satu agenda utamanya adalah santunan anak yatim piatu yakni dari Panti Asuhan Budi Luhur Jekulo Kudus. Selain itu, ada pula acara pemotongan tumpeng dan doa dari perwakilan yayasan tersebut sebagai rangkaian acara. Untuk memeriahkan acara, diadakan pula lomba untuk Anak anak dan dewasa seperti lomba memakan kerupuk, lomba sendok kelereng berjalan, Estafet Balon, lomba menyusun korek api dan doorprize yang sudah disiapkan panitia.

“Santunan Anak Yatim Piatu ini sebagai wujud syukur kami yang disatukan salam satu komunitas yang penuh rasa kekeluargaan dan peduli sesama. Harapanya supaya kegiatan kegiatan kami mendapatkan keberkahan, selalu bermanfaat , dan menambah ilmu Automotive serta mempererat tali persaudaraan dari berbagai daerah dalam karisidenan Pati yakni berplat K,,” tambah Syahrial

Tak kurang dari  70 mobil Toyota Calya dan Daihatsu Sigra datang memeriahkan acara tersebut. Personil yang terlibat sejumlah 165 orang.  Kedepan, komunitas ICSF secara terbuka mengajak rekan rekan pemilik mobil Toyota Calya dan Daihatsu Sigra wilayah Pati, Kudus, Jepara, Rembang, Grobogan dan Blora bisa bergabung dengan kami ICSF Chapter K Muria.

Penulis: Syahrial Aman/ Jurnalis Warga

Editor: Revan Zaen

 

 

 

Berita Kudus Pati

Warga Getas Pejaten Kudus Meninggal Setelah Hantam Pembatas Jembatan Ngebruk Juwana Tepat Dini Hari

Juwana – Selasa dini hari ( 26/12/2017) sekitar pukul 01:00 WIB, terjadi kecelakaan tunggal yang mengakibatkan korban meninggal di tempat. Dari olah TKP yang dilakukan anggota Polsek Juwana, korban meninggal karena benturan keras antara sepeda motor yang dikendarai yang menabrak pembatas jembatan di Jalan Juwana – Batangan turut Desa Bumirejo Dukuh Ngebruk Kecamatan Juwana Kabupaten Pati.

Korban meninggal setelah menabrak pembatas jembatan Ngebruk Juwana

Korban yang mengendarai sepeda motor Honda Mega Pro dengan nomor polisi K 3569 ET. Korban adalah Jasmiru (56th) pekerjaan sebagai sopir. Warga Desa Getas Pejaten, RT. 02 RW. 01 Kecamatan Jati Kabupaten Kudus.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan S.I.K melalui Kapolsek Juwana AKP Didi Dewantoro, S.H,S.I.K menjelaskan bahwa telah terjadi kecelakaan tunggal di dukuh Ngebruk desa Bumirejo jalan raya Juwana – Batangan korban meninggal ditempat.

“Awalnya korban mengendarai sepeda motor dari arah barat ke timur dan sesampainya di TKP  korban tidak bisa mengendalikan laju sepeda motornya dan  kemudian menabrak pembatas jembatan,” terang Kapolsek Juwana AKP Didi.

Setelah mendapat laporan adanya kecelakaan lalulintas,unit laka lantas polsek Juwana bergerak cepat mendatangi lokasi menolong korban, melaksanakan pengaturan lalulintas, membuat sket olah TKP dan melaporkan kejadian ke Pimpinan yang kemudian berkasnya dikirim ke satlantas polres Pati.

Reporter: Arton

Editor: A. Muhammad

Kudus Pendidikan

Rektor UNNES Bahas “Berebut Suara Dengan Bahasa Ala Penguasa” di FKIP UMK

KUDUS – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK), menyelenggarakan kuliah tamu di Ruang Seminar Rektorat Lantai IV Gedung Rektorat, Rabu (15/11/2017).

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Fathur Rokhman M.Hum.

Kuliah tamu tersebut mengulas tema ‘’Politik Bahasa Penguasa: Mengkaji Bahasa dalam Praktik Relasi Kuasa” itu menghadirkan Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Fathur Rokhman M.Hum, sebagai narasumber. Tema tersebut tak lain merupakan judul buku karya Prof. Fathur Rokhman yang ditulis bersama salah satu dosen Unnes lain, Surahmat M.Hum.

Prof. Fathur Rokhman dalam kesempatan itu menyampaikan, bahwa bahasa tidak sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan juga alat kekuasaan.Sebab, dengan kemampuan berbahasa yang baik, seseorang akan mampu mengontrol dan mengendalikan orang di sekitarnya.

Rektor Unnes Bahas Politik Bahasa Penguasa

‘’Dalam pemahaman sosiologi posmodern, bahasa bisa menjadi alat dominasi (hardpower) dan alat hegemoni (softpower), karena efek bahasa bisa lebih dahsyat daripada pedang atau senjata lainnya. Dengan bahasa, orang bisa menjadi mulia, juga bisa celaka,’’ katanya.

Narasumber dan Panitia berfoto bersama

Rektor Unnes lulusan Program Doktor Linguistik UGM itu pun memberikan tips, kaitannya dengan politik bahasa yang bijak. ‘’Tips itu adalah bahwa seseorang mesti memiliki kesadaran linguistik, cermat melihat teks dan konteks, menghindari ungkapan kasar, dan jangan mudah terprovokasi,’’ papar ahli sosiolinguistik itu.

Sementara itu, Dr. Murtono M.Pd, pakar bahasa UMK, dalam kesempatan itu mengapresiasi hadirnya buku “Politik Bahasa Penguasa” yang diangkat sebagai tema kuliah tamu ini. ‘’Secara umum, buku ini sangat menarik. Ini penting dibaca semua kalangan, baik mahasiswa, praktisi di bidang politik, pedagang, dan masyarakat secara luas,’’ ujar Murtono yang juga Wakil Rektor I UMK tersebut

Penulis: Rosidi/ Humas UMK

Editor: Revan Zaen

Kudus Lingkungan

Meski Belum Rampung Total, Taman Bumi Wangi Jekulo Kudus Sudah Diserbu Anak Anak

KUDUS. Ada pemandangan berbeda ketika Anda melintas di Jalan Kudus Pati tepatnya di desa Jekulo Kec. Jekulo, Kab. Kudus Jateng. Di tepi jalan, lahan yang semula kurang bermanfaat kini disulap menjadi taman yang hijau dan menyenangkan. Taman Bumi Wangi namanya. Meski belum rampung seratus persen, namun nampaknya warga, utamanya anak-anak sudah tak sabar untuk menikmatinya.

sejumlah anak nikmati fasilitas bermain di Taman Bumi Wangi

Taman yang memiliki wahana bermain, jogging track dan tempat berkumpul yang bisa juga digunakan untuk pertunjukan seni rakyat ini terbilang cukup lengkap. Terdapat deretan warung di sebelah barat, dan tepian taman yang cukup untuk parkir di bagian utara.Sayangnya, masjid yang berdekatan lokasinya harus menyeberang jalan yang tak pernah sepi pengendara.

Seorang pekerja masih menyelesaikan finishing taman, namun anak-anak sudah tak sabar menikmati wahana bermain

Taman Bumi Wangi ini digadang-gadang akan menjadi pusat keramaian baru di wilayah Kudus timur. Benar saja, ketika para pekerja masih melengkapi dengan berbagai fasilitas seperti lampu penerangan dan menyempurnakan tanaman di taman, puluhan anak kecil silih berganti bermain di berbagai wahana yang disediakan gratis tersebut. Padahal, peresmian taman ini pun belum dilakukan.

Wahyu, salah satu pengunjung taman yang datang dengan putranya mengungkapkan kegembiraanya.

“Seneng mas, kalau mau refreshing sambil momong disini enak. Dekat dan adem. Mengawasi anak anak saat bermain dengan teman temannya juga mudah. Gratis dan lumayan lengkap fasilitas bermainnya untuk anak-anak” ungkap Wahyu kepada reporter wartaphoto.net

salah satu fasilitas di taman Bumi Wangi Kudus

Lebih lanjut wahyu berharap supaya taman ini bermanfaat dan positif. “Jangan sampai malah digunakan untuk mesum dan hal lain yang tidak baik. Ini kan taman bermain anak-anak. Biarkan mereka hidup dalam dunianya sendiri,” tambahnya.

Kota Di Tengah Taman

Kota di tengah taman adalah tagline yang selalu disampaikan Bupati Kudus, Mustofa Wardoyo yang berhasil memboyong adipura kencana ke Kota kretek ini.

”Kudus memang kota kecil, tapi bukan kota mati. Kami terus berbenah menata kota ini semakin cantik,” kata Bupati Kudus beberapa waktu lalu saat memaparkan konsepnya kepada tim penilai Adipura.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kudus Sumiyatun menyampaikan bahwa konsep kota dalam taman adalah sesuai arahan Bupati. Bahwa tanah-tanah kosong bisa dikelola biar menjadi indah dan bersih serta infrastrukturnya bagus penataannya, harus dimanfaatkan untuk dibuat taman seluruhnya.

“Mohon masyarakat Kudus ikut memiliki keberadaan taman yang ada sehingga bisa ikut andil dalam menjaga kebersihan, penataan lingkungan, dan penjagaan taman harus ikut. Mengingat taman-taman ini dibuat pemerintah bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk Kudus tercinta,” ungkap wanita yang dikabarkan hendak maju dalam Pilbup Kudus mendatang.

Reporter: Nafir

Editor: Revan Zaen

Kudus

Sebelas Pengusaha Batik Bakaran Ikuti Sosialiasasi Akses Permodalan Perbankan

KUDUS – Sedikitnya 11 pengusaha Batik Bakaran Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah mengikuti sosialisasi akses permodalan pada Jumat lalu (20/10). Sosialisasi yang difasilitasi tim Iptek bagi Produk Unggulan Daerah (IbPUD) UMK ini, dilangsungkan di Lantai II Ruang VIP Gedung J Universitas Muria  Kudus (UMK).

Para pelaku usaha batik bakaran yang hadir dalam sosialisasi itu berasal dari Wito batik, Titis Batik, Satria Batik, Amalia Batik, Batik Wates, Condro Kirono, Adisa Batik, Abbida Batik, Tiara Batik, Batik Ambaram, dan Bunga Batik.

Dua narasumber yang dihadirkan dalam sosialisasi akses permodalan bagi pelaku usaha, adalah Aan Pujianto dan Nanda Ade Purnama. Keduanya merupakan analis kredit Bank Jateng Cabang Pati.

Nanda Ade Purnama mengatakan, di Bank Jateng ada beberapa program kredit yang bisa dimanfaatkan (diakses) oleh para pelaku usaha kecil dan mikro. Yakni Mitra Jateng 25,  Mitra Usaha Rakyat, dan Kredit Usaha Produktif (KUP).

‘’Namun yang paling memungkinkan untuk cepat diakses, yaitu Mitra Jateng 25. Ini program kredit yang berpihak kepada pelaku usaha kecil dan mikro, karena prosesnya yang cepat,’’ katanya dalam paparannya.

Kerena cepatnya proses pencairan kredit itulah, sehingga banyak pelaku usaha yang mengajukan kredit ini. ‘’Mitra Jateng 25 ini tidak wajib agunan, sehingga banyak yang tertarik. Di Kabupaten Pati, pernah dalam sebulan lebih dari 200 permohonan kredit,’’ jelasnya.

Diamini Aan Pujianto, Nanda menambahkan sembari berpesan, agar para pelaku usaha yang mengajukan kredir, benar-benar dipergunakan sesuai peruntukannya. ‘’Jika mendapatkan kredit, gunakanlah sesuai peruntukannya. Ini juga berlaku bagi para pelaku usaha Batik Bakara. Selama sesuai peruntukannya, dampak positif pengembangan usaha, akan nampak,’’ ujarnya.

Ketua tim IbPUD UMK, Mukhamad Nurkamid S.Kom M.Kom, mengatakan, Batik Bakaran menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat di sekitar Juwana, Pati, sehingga keberadaannya perlu mendapatkan dukungan banyak pihak.

‘’Sosialisasi ini, juga merupakan bentuk dukungan kami agar pelaku usaha mendapatkan informasi yang jelas mengenai cara pengajuan kredit di perbankan. Tujuannya, agar ke depan, pelaku usaha bisa mendapatkan akses permodalan dari perbankan, sehingga usaha yang dijalankannya semakin berkembang,’’ terangnya

Sumber: Rosyidi UMK

Kudus

Motivator Yoeno Eko Bekali Tiga Prinsip Komunikasi Kepada 362 Calon Wisudawan FKIP UMK

KUDUS – 362 calon wisudawan periode Oktober 2017 dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK), mengikuti pembekalan yang digelar oleh pihak fakultas di Auditorium Kampus UMK, Rabu (11/10/2017).

Yoeno Eko, profesional good sales and negotiation skill  yang juga alumni UMK dihadirkan sebagai narasumber. Pada kesempatan itu menyampaikan berbagai tips menarik bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan mengemukakan sebuah gagasan.

Menurutnya, ada tiga prinsip yang mesti dipakai dalam mengemukakan gagasan. ‘’Tiga prinsip itu adalah, bahwa gagasan yang disampaikan itu harus jelas, ringkas (tidak bertele-tele penyampaiannya) serta apa yang disampaikan merupakan itu bisa memecahkan sebuah permasalah, bukan malah menambah masalah,’’ tegasnya.

Yoeno Eko, profesional good sales and negotiation skill  dihadirkan menjadi  narasumber

Panitia kegiatan, Mutohhar M.Pd., menjelaskan, pembekalan digelar dalam rangka memberikan motivasi dan membangun kepercayaan diri calon wisudawan, khususnya menghadapi dunia kerja pasca-wisuda.

Pembekalan ini baru pertama kali digelar oleh FKIP kepada para calon wisudawan. Narasumber tidak sekadar menyampaikan materinya, melainkan lebih banyak mengajak para peserta berdiskusi dan melakukan praktik-praktik komunikasi yang baik kepada sesama peserta.

‘’Selain menberikan motivasi dan membangun rasa percaya diri calon wisudawan, yang lebih penting lagi, melalui pembekalan ini, adalah para calon wisudawan dididik cara berkomunikasi yang baik,’’ katanya dalam pembekalan yang dibuka Wakil Dekan III FKIP, Drs. Sucipto M.Pd. Kons.

Penulis : Rosyidi/ Humas UMK

Editor: Revan Zaen

 

 

Kudus

Diduga Rem Blong, Bus Indonesia Sapu Sejumlah Kendaraan di Proliman Kudus. 5 Meninggal

JATI-KUDUS. Kecelakaan maut terjadi di Kudus, Jawa Tengah, Kamis malam (31/08) sekitar jam 18.45 WIB. Kecelakaan tepat pada malam takbir Idul Adha ini terjadi di proliman Jl. Lingkar Selatan, Ds. Tanjung Karang Kec. Jati, Kudus.

Bus Indonesia yang dikemudikan Ikhwan Mukminin (46th), warga Ds.Tireman RT.01/02 Kec.Rembang Kab. Rembang terguling, menabrak, dan menimpa sejumlah motor yang berhenti di traffic light. Akibat kecelakaan tersebut, lima korban meninggal dunia dan 38 orang terluka

Kronologi kejadian bermula ketika Bus Indonesia No.Pol: L-7519 UV berjalan dari arah utara ke selatan dengan kecepatan Tinggi dengan kondisi rem dan handrem blong sebelum terjadi laka lantas. Sampai di TKP (proliman jalan) Bus membanting setir ke kiri kemudian mengguling ke kanan. Bus menimpa mobil dan motor yang sedang menunggu lampu trafik menyala Hijau.

Dari data yang berhasil dihimpun redaksi, lima korban meninggal adalah :

  1. Kartini (60th) Warga Kalirejo Undaan Kudus
  2. Edi Handoko (36th) Warga Wates Undaan Kudus
  3. Sri Mulyaningsih (36th) Warga Wates Undaan Kudus
  4. Falikhul Akhsan (29th) Warga Besito Gebog Kudus
  5. Joko Purwanto (38th) Warga Wergu Kulon Kudus

Kanit Laka Polres Kudus, Iptu Ngatmin menuturkan bahwa bus diduga melaju dengan kecepatan tinggi akibat mengejar lampu lalu lintas, berusaha menerobos lampu merah, namun dari arah berlawanan kendaraan sudah berjalan. Akibatnya pengemudi membanting setirnya ke kiri arah Undaan.

“Tak dapat mengendalikan laju kendaraannya, lalu Bus oleng dan terguling,” terang Iptu Ngatmin.

Adapun Kendaraan yang terlibat:

  1. Bus Indonesia No.Pol: L-7519 UV
  2. Mitshubishi L300 no. Pol : K1949 BN
  3. AVANSA NOPOL : H 9189 BF
  4. LUXIO NOPOL : H9144LR
  5. SPM MIO NOPOL: K 2495 BR
  6. SPM SUPRA NOPOL K 5710PK
  7. SPM BEAT NOPOL K2918RR
  8. SPM CB150R NOPOL K3449PR
  9. SPM VARIO K 4972 QB
  10. SPM VARIO K3290HE
  11. SPM VIXION K4295LM

Korban luka di RS Mardi Rahayu Kudus ada 33 korban dan 11 korban di RSUD Kudus.

Salah seorang saksi yang juga penumpang bus yang selamat menceritakan bahwa sebelum kecelakaan, Bus mengalami rem blong, kemudian bus membunyikan klakson terus menerus agar pengendara di depannya minggir. Ban digesekkan ke separator/ trotoar supaya berhenti. Namun justru Ban meletus, dan tergulung. Sepeda motor dan mobil yang lewat tersapu bus yang sudah sulit dikendalikan.

Sementara itu, Petugas JasaRaharja Perwakilan Pati JawaTengah proaktif dalam melakukan pendataan para korban kecelakaan beruntun untuk diurus santunan bagi ahli warisnya.

Sebagaimana PMK No 15 dan 16 tahun 2017, setiap ahliwaris korban meninggal dunia berhak untuk menerima santunan sebesar Rp 50 juta dan para korban luka-luka serta dirawat di rumah sakit mendapatkan surat jaminan santunan dari Jasa Raharja sampai maksimal Rp. 20 juta.

Kasus ini sedang dalam penanganan Satlantas Polres Kudus.

Reporter: Nafir

Editor: Revan Zaen

Kudus

Aksi Fotografer Upacara Ini Mendadak Viral Karena Masuk Ke Barisan Petugas. Hoax atau Fakta?

Foto Masfyan Hade Keripik Parea

KUDUS. Upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kudus yang dipusatkan di alun alun simpang tujuh ini berjalan sukses. Bahkan, mereka membuat kejutan dengan tarian maumere dengan sejumlah forkopinda Kudus. Tak berhenti disitu, mereka juga membuat formasi angka 72 yang menandakan hari kemerdekaan Republik Indonesia Ke 72.

Namun, ada yang terasa janggal pada salah satu sesi koreografi dari Patroli Keamanan Sekolah (PKS). Saat sedang fokus menujukkan kebolehannya menghibur tamu undangan dan hadirin sekalian, muncul sesosok wanita bercadar yang memotret dari dalam formasi. Sejumlah peserta nampak heran, siapakah dia?

Akun Masfyan Hade Keripik Parea sempat mengabadikan momen tak biasa tersebut. Dirinya sempat memposting di media sosial facebooknya dengan caption yang cukup panjang.

Sekian tahun aq ikut memotret acara-acara resmi kenegaraan, tapi baru kali ini “nggak sengaja” ada pengambil gambar masuk ke tengah lapangan dan masuk dalam barisan…
Setahuku, teman-teman jurnalis (asli) TV maupun fotografer ngambil gambar acara kenegaraan dari pinggir ( pake Tele atau zoom). 
Jadi nggak terbayangkan, kalau pengambil gambar ( dalam foto ini) sedang di pertandingan sepakbola, terus berada di tengah2 lapangan sambil pegang kamera   … 
#Curcol
#gagalpaham

Sontak, postingan tersebut direspon warganet/ netizen dengan membagikannya di berbagai linimasa yang mereka miliki. Salah satunya di posting di group Komunitas Fotografi Indonesia yang kemudian ditanggapi dan dibagikan puluhan kali. Beberapa diantara bahkan mengomentari bahwa foto tersebut editan namun mayoritas menyayangkan kejadian ini.

Namun, namanya saja warganet, ada ada saja komentarnya. Misalnya akun  Muhammad Yusuf Abu Ibrahim dirinya memberikan komentar lucu.

Ohh..kemarin kirain cuma latihan… Ternyata dah acarane.. Si mbak nya terlalu semangat wakakaka

Akun Soehartono Thejo salah satu yang menyangsikan keaslinanya.

Tolong dilihat yang cermat editan atau bukan krn skr lagi jamannya numpang eksis dgn berbagai macam cara untuk yang posting tolong berikan photo yabg resolusi aslinya biar para master photo bisa menganalisa itu editan apa asli tks

Akun Rumad Supri berikan komentar yang lebih bijak

Maaf yang menjadi catatan :
Antara upacara dan kegiatan tambahan merupakan satu rangkaian sehingga tidak dapat dikatakan itu bukan bagian dari acara kenegaraan.

Katakanlah itu atas perintah atau atas permintaan panitiapun untuk mendapatkan detail gambar maka yang harus dilakukan adalah “penggunaan tele jarak jauh” bukan melanggar tata tertib / sop. 

Misal ada perintah Bupati untuk membersihkan sampah secara bersih di lap. simpang tujuh kemudian dilakukan pembakaran sehingga terjadi kerusakan maka tidak bisa pembakaran itu diatas namakan perintah Bupati, karena melakukan pembakaran simpang tujuh adalah sesuatu yang tidak pas.

Misal ada perintah Kapolres untuk menangkap penjahat, namun dilakukan dengan tidak sesuai prosedur maka kesalahan prosedur itu tidak atas perintah Kapolresnya.

Mohon maaf bila penjelasan saya tidak berkenan, hanya sekedar pendapat dari sudut pandang saja.

Masfyan sebagai pemilik akun yang membagikan info memberikan klarifikasi dalam komentar di facebooknya dengan sejumlah pernyataan membantah.

Aq mbok diajari ngedite.. gen hasile apik  . Kalo saya hanya bisa njawab: yang bilang editan, SDM-nya  sama dengan yang masuk dalam barisan ituh. 

(Bisa minta tolong saya diajari caranya mengedit supaya hasilnya bagus. Kalau saya hanya bisa menjawab. Yang bilang editan, SDM nya sama dengan yang masuk dalam barisan -red)

Klarifikasi tersebut menjelaskan bahwa yang bersangkutan hanya mengabadikan momen saja, bukan untuk mencari sensasi.

Sementara itu, sosok wanita misterius bercadar tersebur disinyalir salah satu wartawan dari media online yang berkantor di Kudus.

 

Reporter: Zaenal

Editor: Revan Zaen

Kudus

Menggugah Amanat Sejarah Melalui Peringatan 17 Agustus di Bekas Stasiun Wergu Kudus

Upacara detik-detik proklamasi Republik Indonesia tahun 2017 diselenggakan komunitas pecinta sejarah di bekas stasiun wergu kudus

KUDUS. Pukul 10.00 WIB, sirine meraung di bekas stadiun wergu Kudus. Tak kurang dari seratusan warga berpakaian pejuang Pembela Tanah Air (PETA) lengkap dengan atribut, senjata, dan pelurunya.  Sementara itu, sejumlah anak kecil beralas kaki sandal, berkaus bebas tampak bergabung dibarisan.

Sejumlah Remaja dari sejumlah komunitas dan kampus turut hadir menjadi peserta Upacara yang ternyata tidak memiliki ketua Panitia. Mereka bekerja sama menyiapkan apa saja yang mereka bisa sesuai dengan tema HUT ke 72 Republik Indonesia, Kerja Bersama.

Sejumlah anak kecil turut hadir dalam upacara yang dihadiri pula oleh veteran

Salah satu Panitia, Arief Indaryanto menjelaskan bahwa upacara ini muncul dari ide untuk mengingatkan kembali nilai nilai sejarah pada generasi muda.

“Termasuk pemilihan tempat di Bekas Stasiun Wergu Kudus ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa bangunan ini bangunan bersejarah. Kudus pernah berjaya dengan ditandai adanya Stasiun Wergu ini,” kata Arief.

Nampak dalam barisan peserta adalah komunitas pecinta sejarah Jenank (Jaringan Edukasi dan Napak Tilas Kabupaten Kudus), Anak-anak dari Omah Dongeng Marwah,Santri Menara, Karang Taruna Bhakti Wergu Wetan, Komunitas Sepeda Onto-onto Tok (OOT), Kudus Mengajar, Komunitas Kresek, Mahasiswa UMK.

Edi Supratno, Sejarawan Kudus yang dikenal sebegai penulis berbagai buku sejarah utamanya Kudus ini menjadi inspektur upacara.

“Stasiun ini (Wergu Kudus –red) pernah menjadi simbol kemajuan zaman pada saat itu. Zaman dulu, manfaat stasiun ini selain mengangkut orang danbarang, juga menyimpan sejarah yang mendalam,” Kata Edi.

Komunitas OOT (Onthel Onthel Tok berpakaian ala Pejuang Pembela Tanah Air (PETA)

“Stasiun ini pernah menjadi target serangan Belanda saat agresi militer 1 pada 21 Juli 1947. Ada 200 lebih bekas peuru di dinding atas bangunan stasiun yang menjad saksi keganasan serangan Belanda,”  imbuhnya.

PresidenSoekarno, lanjut Edi, beserta tokoh nasional lainnya pernah menginjakkan kaki di Stasiun yang kini tidak difungsikan lagi.

Amanat yang disampaikan oleh Edi saat mengakhiri sambutannya dengan kata-kata Bung Karno. Membangun fisik itu penting, tetapi lebih penting membangun mental dan karakter bangsa.

Reporter: Nafir

Editor: Revan Zaen

Kudus Pati

Kudus Berhasil Raih Adipura Kencana 2017 Sedangkan Pati Kembali Tertunda

Foto: Pemkab Kudus

PATI. Setelah digadang gadang akan memperoleh penghargaan Adipura Kencana pada 2017, tenyata Kabupaten Pati tidak bisa meraihnya pada tahun 2017 ini. Sebelumnya, Pati menjadi satu-satunya nominator Adipura Kencana se-Pulau Jawa untuk kategori kota kecil sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Purwadi pada (13/06). Salah satu indikatornya adalah pegolahan sampah dengan sistem Sanitary Landfill pada TPA Margorejo.

Namun, nampaknya ada faktor-faktor lain yang menjadi dasar dewan juri penilai menganggap Pati belum layak mendapat adipura kencana. Namun, bukan berarti Pati tanpa prestasi sama sekali. Tahun ini Pati kembali meraih piala Adipura, namun bukan adipura kencana. Bukan merupakan pencapaian yang bisa dianggap remeh. Piala Adipura ini biasanya diarak pada perayaan ulang tahun kabupaten Pati yang jatuh pada 7 Agustus 2017 untuk yang ke 694.

Adipura Kencana adalah penghargaan Adipura yang diberikan kepada kabupaten/kota yang memenuhi syarat kota berkelanjutan dan telah memperoleh anugerah Adipura minimal tiga kali berturut-turut.

Di Indonesia, Adipura Kencana Tahun 2017 diberikan kepada 6 kota dan kabupaten di Indonesia.yakni ;

Kota Surabaya, Jawa Timur
Kota Tangerang, Banten
Kota Balikpapan, Kalimantan Timur
Kota Malang, Jawa Timur
Kabupaten Kudus, Jawa Tengah
Kabupaten Jombang, Jawa Timur

Kudus Satu Satunya

Kabupaten Kudus Patut berbangga karena kota kretek yang dipimpin oleh Musthofa Wardoyo ini menjadi satu satunya kabupaten/ Kota yang mendapatkan Adipura Kencana di Jawa Tengah.

Mustofa mengaku sangat bangga dapat meraih penghargaan Adipura Kencana tahun ini. Disampaikannya, keberhasilan ini bukan hanya prestasi kepala daerah, tetapi ada tujuan lain yang lebih penting yaitu menjaga lingkungan, dengan segala aspeknya untuk kesejahteraan seluruh masyarakat.

”Adipura Kencana ini untuk seluruh masyarakat dan ke depannya kami harapkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dapat lebih ditingkatkan lagi,” imbuh Pria yang dua kali memimpin Kudus ini.

kota dan kabupaten peraih nominasi berinovasi di bidang pengelolaan sampah dan RTH. Tidak hanya itu, diharapakan mampu pula membuat sistem pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan, penurunan ketimpangan ekonomi, dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Untuk masuk sebagai peraih Anugerah Adipura Kencana kabupaten/kota harus mampu menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup seperti pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran dan ruang terbuka hijau (RTH). Termasuk didalamnya pembuatan sistem pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan, penurunan ketimpangan ekonomi, dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Kudus memperoleh penghargaan Adipura Kencana 2017 untuk kategori Kota Menengah.

Reporter: Zaenal

Editor: Revan Zaen