Home Archive by category Rembang

Rembang

Rembang

Terpeleset Saat Memancing Di Embung Desa Tegaldowo Gunem, Dua Pelajar Meninggal Tenggelam

REMBANG. Dua orang yang masih menyandang status pelajar, tenggelam di embung Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang, Sabtu (27/01/2018) sekitar 12 siang. Keduanya ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa. Diduga, keduanya tergelincir saat memancing ikan.

Awalnya keempat remaja yang masih bertetangga yakni, Febry Prabowo (17), Aminanto (20), Zaenal Arifin (20), serta Dodik (20), sekitar pukul 09:00 WIB memancing ikan di embung Desa Tegaldowo. Tanpa disadari salah satu dari mereka yaitu Dodik tergelincir ke bibir embung dan nyaris tenggelam. Ketiga temannya berusaha menolong namun nahas, keempat remaja justru ikut tenggelam.
Melihat kejadian itu Jupri (20) warga Tegaldowo langsung ikut menolong dan memanggil Parmin (25) yang kemudian datang dan melemparkan tali tampar ke arah Dodik dan Zaenal Arifin.

Salah satu korban tenggelam ditemukan dan diangkat tim SAR

Dodik dan Zaenal Arifin mampu diselamatkan kedua warga Tegaldowo itu dalam kondisi lemas. Mereka berdua segera dilarikan ke puskesmas Pamotan untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Namun kedua rekannya, Febry dan Arminanto tak dapat diselamatkan.

Tim SAR bersama BPBD Kabupaten Rembang tiba dilokasi sekitar pukul 17:50 WIB langsung melakukan penyelaman dan pencarian kedua korban tenggelam. Tak berapa lama korban dapat ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia. Keduanya dibawa pulang ke kediaman masing-masing serta dilakukan pemeriksaan medis oleh Dr Yuanita dari Puskesmas Gunem yang didampingi Muspika Gunem.
Hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan adanya unsur kesengajaan ataupun penganiayaan. Sehingga korban segera diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan.

 

Reporter: Arton
Editor: A.Muhammad

Jurnalisme Warga Rembang

KKP Berikan Akses Permodalan untuk Nelayan Rembang Yang Mau Beralih Ke Alat Tangkap Ramah Lingkungan

REMBANG. Ada angin segar yang berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Melalui Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) telah melakukan akad penguatan modal kepada KUB Nelayan Rembang, (Kamis, 25/01/18).

Penandatanganan akad pinjaman ini dilaksanakan di Kantor Cabang BRI Rembang, LPMUKP bekerjasama dengan BRI, melakukan akad pinjaman dengan dua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan. Kerjasama ini  menjadi penting seiring upaya KKP untuk mendorong nelayan untuk menggunakan alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan melalui insentif akses permodalan.

Pinjaman BRI – LPMUKP ini disalurkan kepada KUB Mina Sejahtera sebesar Rp 380 Juta dan KUB Syafina Naja sebesar Rp 275 Juta di Kabupaten Rembang.  yang peruntukkannya digunakan untuk penguatan modal bagi 29 nelayan anggota kedua kelompok nelayan tersebut.

Direktur BLU LPMUKP, Syarif Syahrial,memaparkan bahwa rata-rata pinjaman per nelayan yang diakadkan hari ini sekitar Rp 22 Juta per nelayan. Tenor pinjaman antara 2 hingga 5 tahun dengan tingkat bunga 4 persen per tahun.

“Sesuai instruksi dari Bu Menteri, KKP melalui perbankan membantu mencarikan akses permodalan kepada nelayan yang mau beralih menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan,” tambah Syahrial.

Selain pinjaman, LPMUKP juga memberikan layanan pendampingan baik sebelum, sesudah dan setelah periode pinjaman. Sebelum penandatanganan akad pinjaman, seluruh nelayan mendapatkan penjelasan tentang teknis pinjaman.

Direktur LPMUKP memberikan penekanan bahwa nelayan yang menjadi debitur LPMUKP dilarang untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. LPMUKP memulai operasional penyaluran pinjaman kepada nelayan, pembudidaya ikan, petambak garam, pengolah dan pemasar serta usaha masyarakat pesisir lainnya sejak 10 November 2017.

Selama 2017, LPMUKP bersama BRI telah memberikan persetujuan pinjaman sebesar Rp 32 Miliar dengan jumlah pemanfaat sebanyak 2.348 orang.

Penulis: Rohmat Syaiful Arifin/ Jurnalis Warga

Editor: Revan Zaen

Berita Rembang Sosok

Pesan Bijak Bu Susi Saat Kunjungi Pertunjukan Seni Budaya di Rembang Bikin Trenyuh

REMBANG. Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti dan rombongan hadiri acara pagelaran seni budaya bahari di alun alun rembang, rembang kamis 7 Desember 2017. Begitu bu susi tiba di alun alun Rembang, sambutan masyarakat Rembang luar biasa meriahnya.Sebelumnya, Bu Susi mengunjungi kediaman Gus Mus Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Leteh, Rembang sebelum ke lokasi pagelaran.

Acara yang dibuka untuk masyarakat umum, termasuk para nelayan yang ada di rembang. Banyak warga yang minta berfoto group dengan Menteri yang dikenal nyentrik ini. Salah satu momen unik khas Susi Pudjiastuti  terjadi saat acara seni teatrikal dibawakan sekelompok komunitas saat memperagakan gerakan dengan di iringi lagu Michael Jackson. Bu Susi bahkan mempersilahkan anak anak kecil ikut menari bersama.

Acara puncaknya adalah pagelaran wayang kulit di Alun Alun Rembang dengan Dalang Ki Enthus Susmono yang juga Bupati Tegal. Bu Susi menyerahkan secara simbolis wayang Werkudoro kepada Ki Dalang Enthus.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menyambut hangat hadirnya sejumlah tamu tokoh nasional ini.

“Terima kasih Bu Susi Pudjiastuti beserta rombongan, bapak gubernur, kepala dinas kelautan, para nelayan yg saya hormati dan saya banggakan. Termasuk juga bapak Bupati Tegal yg hari ini sebagai dalang. Ki Enthus penghasilan tetapnya adalah dari dalang. Sedangkan sebagai bupatinya adalah samben (sampingan-red). Kenapa? karena tarifnya dalang 200 jt lebih, kalau gaji bupati hanya 6,3 jt.

Tak lupa Bupati Rembang mempromosikan demografi wilayah rembang secara singkat. “Perlu kami sampaikan bahwa di Rembang ini wisata terbesar panjang lautnya 63 Km .Penduduknya 30% hidup dari nelayan terdiri dari 14 kec 294 desa/kelurahan. mudah mudahan kehadiran beliau ini dapat menambah kesejahteraan,” kata Bupati Rembang

Motif Ikan

Sementara Gubernur Ganjar Pranowo lebih tertarik mengomentari kostumnya yang bermotif laut dan ikan.

“Saya kesini mengantarkan Bu Susi yang tadi datang ke semarang, menculik saya, untuk dibawa ke Rembang untuk bertemu masyarakat rembang yang bahagia.Paling sing sedih utange akih,” kata Ganjar yang disambut tawa pengunjung.

Tadi saya bonceng helikopternya Bu Susi motret dari atas banyak kapal-kapal tertata rapi, lalu ada pulau kecil yg bagus sekali. Bu Susi pesan ke saya kalau provinsi harus turun tangan membantu kesulitaan nelayan. Kemudian,  bahwa batik saya hari ini bergambar ikan, ya karena “diancam” Bu Menteri. Kalau pak Ganjar tidak pakai baju yang gambar ikan, tenggelamkan!” imbuhnya yang kembali disambut riuh penonton.

Pagelaran seni dan budaya ini disebut Susi Pudjiastuti sebagai sebagai tanda syukuran. Syukuran atas berdaulatnya laut indonesia. Susi menyebut bahwa ribuan kapal asing yang bertahun tahun mencuri ikan dilaut Indonesia sudah pergi.

“Masih ada setengahnya yang masuk dan mencuri. Dalam pimpinan Pak Jokowi semua instansi bersatu. Saya dibantu satgas 115 selain saya menjadi menteri KKP juga komandan satgas 115 yang menangani. Masalah pencurian ikan oleh kapal asing. Alhamdulillah lebih dari 10ribu kapal asing kita tenggelamkan,” kata Susi

“Menenggelamkan kapal bukan ide saya, bukan ide siapa-siapa. Tapi itu amanah UUD. Sekarang saatnya kita berdaulat di bidang maritim. Pak presiden sudah bantu dengan Perpres 44 dimana asing tidak boleh lagi tangkap ikan di wilayah indonesia,” sambungnya.

Menteri yang dikenal berpenampilan nyentrik ini juga menitipkan pesan bijak bagi masyarakat. Jikalau warga melihat kapal asing di laut Indonesia segera laporkan.

“Saya tahu policy kami tidak disukai, tapi demi masa depan bapak-bapak, demi bisnis bapak-bapak,  bukan untuk saya, selesai jabatan saya selesai. Saya menjadi menjadi menteri menganbil langkah untuk rakyat untuk bangsa, bukan untuk pribadi. Saya titipkan laut kepada bapak ibu rakyat mahasiswa ormas partai politik, semua yg merasa sebagai bangsa Indonesia, demi bangsa demi rakyat kita tidak boleh takut,” pesan Bu Susi

 

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Berita Budaya Rembang

Nonton Wayang di Alun Alun Rembang, Menteri Susi Tertawa Terbahak

REMBANG –  Kamis malam (06/12/2017) Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Rembang. Kunjungan  kali ini untuk menghadiri pagelaran seni dan budaya wayang kulit semalam suntuk yang bertempat di alun-alun Rembang dengan dalang Ki Enthus Susmono (Bupati Tegal).

Keisengan dan keusilan Dalang Ki Enthus memang cukup dikenal. Menteri Susi dan seluruh hadirin tak kuasa menahan tawa dengan sindiran dan slengekan ala Ki Enthus. Bahkan menteri susi dibuatkan terpingkal pingkal.

Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti tertawa lepas saat menonton wayang di alun alun Rembang

Tak ketinggalan, Menteri Susi juga mengajak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menaiki helikopter dan memotret keindahan pesisir laut Rembang dari udara. Ganjar bercerita bahwa menteri Susi sangat kagum ketika melihat puluhan kapal nelayan berjajar rapi, hingga melihat pulau kecil yang indah.

“Tadi Bu Susi mampir ke Semarang dan kemudian menculik saya untuk ikut ke Rembang, saya bonceng helikopter milik bu Susi dan diajak berkeliling diatas laut Rembang sambil memotret kapal-kapal nelayan dan ada pulau kecil yang indah, beliau sangat kagum,” ungkap Ganjar.

Dalam sambutanya menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjelaskan bahwa acara budaya ini memang sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu.

“Acara ini digelar sebagai rasa syukur atas berdaulatnya laut Indonesia.Dan ini memang sudah saya rencanakan sejak 2 atau 3 bulan lalu. Saat saya melaksanakan acara budaya yang sama dikampung saya di Pangandaran. Dan saya berfikir saya juga bisa melakukan hal yang sama ditempat yang lainnya, karena ini sebagai rasa syukur kita semua yang sudah berhasil menghalau dan menenggelamkan kapal-kapal asing penangkap ikan di laut kita ” jelas Susi.

 

Ditempat yang sama bupati Rembang Abdul Hafidz juga mengungkapkan kegembiraanya dengan adanya acara ini, beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu menteri Susi dan rombongan, Pak Gubernur dan rombongan, serta seluruh pejabat terkait hingga kepada masyarakat Rembang yang terdiri dari 14 kecamatan 294 desa/kelurahan semakin sejahtera dan maju.

Berita Rembang

Pasar Kota Rembang Akan Disulap Menjadi Malioboro Kecil. Anggaran Diperkirakan Mencapai 50M

REMBANG – Pemkab Rembang akan menjadikan Pasar Kota Rembang menjadi Malioboro kecil. Sebagai gambaran, Bupati Rembang, Abdul Hafidz menjelaskan bahwa  pemanfaatan eks Pasar Kota Rembang akan didahului proses  pemindahan ke eks Pasar Hewan Sumberejo Kecamatan Rembang Kota pada tahun 2019.

‘’Nantinya disana ada ruang terbuka hijau. Kemudian ada ruko-ruko dari kaca untuk kantor bank atau BUMN,” terang Abdul Hafidz

Lebih lanjut bupati mengatakan, desain Pasar Kota Rembang yang baru nantinya direncanakan memiliki basement untuk tempat parkir kendaraan dan jualan basah. Lantai satu untuk dagangan kering. Sedangkan lantai dua untuk barangbarang yang memiliki nilai tinggi.

Kondisi Pasar Kota Rembang saat ini diklaim sudah tidak lagi representatif. Selain semrawut, kondisi pasar juga sudah sejajar dengan jalan. Hal ini mengakibatkan pasar sering becek saat hujan.

‘’Kami ingin pasar yang lebih tinggi. Sehingga ketika hujan tetap bersih. Karena ke depan kami ingin semua pasar di Rembang menjadi pasar semimodern. Barang dan harganya tradisional, namun pengelolaannya modern,’’tandas dia

Dianggarkan 50 Miliar

Semula, pemkab berencana melakukan pemindahan Pasar Kota Rembang ke eks Pasar Hewan Sumberejo pada tahun 2018. Namun pemkab terkendala belum adanya Detail Engineering Design (DED).

Sebagaimana diketahui DED pemindahan Pasar Kota Rembang akhirnya baru digarap tahun 2018. Anggaran untuk DED sendiri kurang lebih Rp 600 juta.

Total dana yang dianggarkan , sebagaimana disampaikan Bupati Rembang, bahwa untuk menyulap pasar terbesar di Rembang tersebut diperkirakan mencapai Rp 50 miliar.

Abdul Hafidz menambahkan dengan pemindahan pasar tersebut, jumlah pedagang yang akan tertampung mencapai lebih dari 3.000 pedagang. Jumlah pedagang di Pasar Kota Rembang yang resmi memiliki kartu tanda dagang (kartadag) saat ini mencapai 1.640 pedagang.

‘’Nanti 1.640 pedagang Pasar Kota sekarang gratis menempati kios, los atau pun lapak lesehan. Sisanya, untuk menampung pedagang lain dengan sistem kerja sama, sewa ataupun pihak ketiga. Itu dipikirkan nanti,’’ tegas dia.

“Kami ingin eks Pasar Kota Rembang jadi seperti Malioboro kecil,’’ kata Abdul Hafidz

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

 

Berita Rembang

Kesal, Nelayan Rembang Curhat Tentang Larangan Cantrang Lewat Spanduk. Ganjar: Ojo Banter Banter…

Rembang – Sambut kedatangan Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, nelayan Rembang bentangkan spanduk yang berisi penolakan tentang larangan alat tangkap jenis Cantrang.Kedatangan mereka kali ini dalam acara kunjungan kerja di pelabuhan perikanan panti (PPP) Tasik Agung Rembang,  Rabu( 22/11/2017).

Beberapa spanduk yang berisi tulisan ” cantrang yen dilarang sekolah anakku piye, cantrang nek di larang uripku piye” ( cantrang jika dilarang sekolah anak saya bagaimana, cantrang jika dilarang hidup saya bagaimana).

Spanduk ini tak hanya dipasang ditembok jalanan, tetapi juga dibentengkan dengan tangan hingga mendekati dan bertatap muka pada Gubernur.

Koordinator nelayan Rembang Lestari Priyanto menjelaskan bahwa aksi ini merupakan sebuah wujud kekecewaan yang pernah dijanjikan oleh Bapak Teten Masduki yang telah lupa tentang janjinya untuk memfasilitasi permasalahan nelayan kepada presiden.

“Nanti kita berupaya bertemu dengan presiden untuk menyelesaikan masalah ini, spanduk ini sebagai upaya ungkapan kekecewaan kegalauan nelayan atas janji yang pernah dijanjikan oleh bapak Teten Masduki waktu pertemuan di istana saat kita demo kita kan sudah menyepakati dan berjanji untuk memfasilitasi dialog antara nelayan sama pak Presiden, namun sampai saat ini belum terealiasasi, ” tukas Priyanto

Usai acara,Ganjar Pranowo sempat menghampiri para pendemo dan mendengarkan keluhanya tentang larangan penggunaan alat tangkap cantrang dan siap untuk membantu serta memberi solusi terbaik.

“Ora usah banter-banter, rene-rene jenenge sopo ? Nomer HP ne piro, tak catet e..” kata Gubernur Jateng

“Gini, nanti alat tangkap kan diganti ya, permodalam dibantu, kalau kamu mau nanti masalahnya apa, ketuanya siapa,kelompoknya apa, nanti saya kirim orang agar diberikan pelatihan dan pendampingan.Daripada teriak-teriak kan nggak enak, semua diselesaikan dan diberi solusi,” kata Ganjar, tawarkan solusi

 

Reporter: Arton

Editor: Revan  Zaen

Berita Rembang

Ganjar dan Firman Serahkan Bantuan Alat Tangkap Ikan dan Bedah Rumah Nelayan di Rembang

Rembang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Tangkap KKP Sjarief Widjaja dan anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo, Rabu pagi (22/11/2017) hadir di tengah-tengah nelayan Rembang. Kehadiran mereka bertiga dalam rangka menyerahkan bantuan alat penangkap ikan ramah lingkungan pengganti cantrang kepada nelayan Rembang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasik Agung Rembang.

Firman Soebagyo (DPR RI FPG) dan Gubernur Ganjar Pranowo saat sesi wawancara dengan awak media

Selain bantuan alat tangkap ikan, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyerahkan program bedah rumah tidak layak huni dengan sasaran rumah milik nelayan. Lima warga RT 03/03 Desa Gegunung Wetan yang mendapat bantuan bedah rumah. Mereka yang mendapat bantuan adalah Balen,Suparno, Suyatno,Junaidi. Satu lagi adalah milik Parnadi, RT02/01., juga berasal dari Desa Gegunung Wetan.

Bupati Rembang H. Abdul Hafidz  yang turut menyertai kehadiran mereka mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas perhatiannya kepada nelayan di Rembang.

“Kami ucapkan banyak terima kasih akan adanya program bedah rumah bagi nelayan. Kami tentu  berharap dengan adanya bantuan tersebut dapat mendorong penataan pemukiman nelayan yang bersih dan tertata,” ujar Abdul Hafidz

Firman Soebagyo, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar

Sementara itu, anggota komisi lV DPR RI Firman Soebagyo, lebih menyoroti masalah-masalah yang dialami para nelayan.

“Pemerintah perlu membuat terobosan-terobosan baru agar memudahkan dan bisa mengatasi setiap persoalan para nelayan.Pemerintah jangan sampai terlambat untuk melakukan regulasi supaya nelayan kita ini jangan sampai nanti suatu saat tertinggal,”kata Firman

“Namun tentunya ini menarik karena ada masyarakat yang memang sekarang ini harus diselesaikan masalah faktor permodalan dan sebagainya oleh karena itu terobosan kita adalah untuk memberikan kemudahan-kemudan dari segi perizinan kemudian permodalan dan pendampingan,” jelas Firman.

 

Reporter: Arton

Editor: A. Muhammad

Kuliner Rembang

Warga Tumpah Ruah dalam Grebeg Dumbeg Yang Berjumlah 3101. Ini Makna dan Harapannya!

REMBANG. Ribuan masyarakat Rembang ikut ramaikan grebek dumbeg yang digelar panitia Carnival Batik Lasem pada Sabtu, 18/11/2017. Sebelum grebeg dumbeg  dimulai, dilakukan penyerahan penganan khas Rembang dumbeg dari Camat Lasem Haryono SH kepada Bupati Rembang H.Abdul Hafidz.

Uniknya ribuan dumbeg yang akan diarak berbentuk menyerupai gunungan dengan total dumbeg sebanyak 3101 buah ini mengandung banyak makna bagi warga Rembang itu sendiri.

Kadarwati seksi acara menjelaskan bahwa jumlah 3101 buah dumbeg ini mengandung arti bahwa dimana tahun 1350 Lasem sebagai vasal kerajaan Majapahit dan di tahun 1751 akhir menjadi Kadipaten sehingga keseluruhan jumlahnya 3101. Ini merupakan sebuah nilai sejarah tentang Lasem, ungkapnya.

Selain itu Dian, Mbak Budaya Rembang 2017 menambahkan bahwa event ini bisa mengangkat segala potensi yang ada mulai dari budaya wisata serta ekonomi. Alumni SMAN1 Rembang ini juga berharap agar nantinya event ini lebih bisa ditingkatkan untuk menarik wisatawan yang datang ke Lasem.

Dumbeg sendiri merupakan penganan tradisional ini terbuat dari tepung nasi yang dibumbui dengan gula kelapa yang kemudian dibungkus menggunakan daun bogor (lontar) dengan cara dililitkan menyerupai kerucut. Dumbeg rasanya sangat khas dengan aroma daun lontar sebagai pembungkusnya. Setelah mengalami proses pemanasan, maka bau lontar tersebut meresap ke dalam makanan.

Bahan dasar dumbeg terdiri dari tepung beras, gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam serta air pohon nira (legen). Namun, banyak juga yang ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu untuk pelengkap dan variasi rasa.

Harus Inovatif

Dalam kesempatan ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang diwakili oleh Kepala dinas perindustrian dan perdagangan provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo, SE., M.Si, bahwa event Lasem Batik Carnival dan grebeg dumbeg ini hanyalah sepenggal dari rangkaian agenda Lasem Festival Pusaka Indonesia yang sangat keren. Selain untuk mempromosikan batik Lasem serta kebudayaan lokal yang dimiliki Lasem.

“Event Lasem Batik Carnival dan grebeg dumbeg ini keren banget. Event ini juga menjadi bagian dari kreativitas dan inovasi dalam rangka memajukan ekonomi masyarakat. Event – event inilah yang harus kita selenggarakan bersama untuk menggerakan lokomotif perekonomian di Jawa Tengah.” kata Arif Sambodo.

Dengan adanya event seperti ini Gubernur juga berharap agar kegiatan ini mampu menjadi destinasi wisata di negeri ini. Sehingga akan memberikan efek domino yang bermanfaat pada aspek ekonomi sosial budaya dan lingkungan dan masa mendatang.

Gubernur juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang sudah menyukseskan event ini atas kreasi inovasi dan kerja kerasnya dan berpesan agar kegiatan seperti ini jangan berhenti sampai disini saja.

“Harus dilakukakan evaluasi dan promosi secara berkelanjutan serta jangan lupa kenalkan dunia perbatikan kepada generasi muda. Supaya mereka tidak asing bahkan pangling di negeri sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Budaya Rembang

“Little Tiongkok” Kembali Gelar Karnaval Batik Dalam Ajang Lasem Fest 2017

LASEM.Sempat Vakum selama dua tahun yakni 2015 dan 2016, akhirnya Festival Lasem kembali dibuka. Bupati Rembang H. Abdul Hafidz secara langsung membuka acara yang dihelat di Jalan Cinta, Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, Sabtu, 18/11/2017.
Mengawali acara Karnival Batik Lasem dimulai panitia melaksanakan prosesi persembahan gunungan dumbeg yang diserahkan oleh camat lasem Haryono, SH kepada 
Dalam pidatonya, Bupati Rembang Abdul Hafidz berterima kasih kepada seluruh warga masyarakat Rembang yang sudah turut serta ikut membangkitkan Lasem lewat event-event budaya lokal. Potensi yang dimiliki Lasem menjadi semakin terkenal tidak hanya di Kota Lasem, tapi juga di luar daerah. Tidak hanya di dalam negeri saja namun dikenal hingga luar negeri.
“Hari ini kita patut bersyukur bisa berkumpul untuk nguri-nguri budaya lokal, karena ini sangatlah penting. Teknologi boleh maju tapi sejarah budaya tidak boleh lupa,” tukas Abdul Hafidz.
“Terlebih karena Batik Lasem kini sudah Go Internasional. Jadi ini merupakan event yang sangat strategis untuk mengembangkan inovasi-inovasi dalam acara yang dikemas dengan Festival Batik Lasem.” tutur Abdul Hafidz.
Selain itu,  Bupati Rembang menambahkan agar masyarakat lebih mencintai lagi kepada batik Lasem serta mau memakainya. Selain menjadi cermin budaya lokal juga bisa menjadi ajang promosi. Tujuannya tentu untuk membuat batik Lasem kembali populer di nusantara.  Perlu diketahui pula salah satu upaya dari Pemkab Rembang, dalam hal ini Bupati Rembang, telah mewajibkan para Pegawai Negeri Sipil mengenakan batik Lasem seminggu sekali.
“Jadi pemerintah Kabupaten Rembang tahun ini semua Pegawai Negeri Sipil wajib pakai batik Lasem seminggu sekali, kemarin dari 7200 Pegawai Negeri sudah saya siapkan batik Lasem, ini membuktikan bahwa orang Rembang cinta batik Lasem dan nanti sekaligus dipakai ajang promosi,” tutup  Bupati Rembang.
Batik Lasem sendiri memiliki ciri khas warna serupa merah darah ayam atau dalam bahasa Jawa abang getih pitik. Motif yang paling terkenal dari Batik Lasem bernama Sekar Jadad 3 Negeri atau 4 Negeri, namun sekarang juga banyak motif-motif kontemporer yang dikembangkan oleh pengrajin. Sementara jika dilihat dari motif-motif yang ada pada Batik Lasem tersebut antara lain motif bambu, bunga seruni, terartai, dan naga. Kreasi dan warna Batik Lasem jauh sekali dari kesan murahan.
Sementara itu, Lasem memiliki julukan “Little Tiongkok” atau Tiongkok Kecil. Hal ini karena peninggalan perkampungan etnies Tionghoa yang masih relatif utuh.  Di kota yang berada di pesisir Pantai Utara inilah, etnies Tionghoa pertama kali masuk ke Pulau Jawa pada sekitar abad 14 Masehi. Karena faktor itulah, maka tak heran jika Batik Lasem memiliki keunikan corak dan motif karena proses alkulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.
Reporter: Arton
Editor: A.Muhammad
Rembang

Mbah Sutami, Pengrajin Gerabah Asal Desa Kabongan Yang Tetap Bertahan Meski Zaman Telah Berubah

Gumpalan tanah liat terus berputar dihadapnya. Tangan kirinya masih nampak begitu bertenaga memutar roda pemutar. Sementara tangan kanannya sibuk mengendalikan rupa dan bentuk karya seni yang dipelajarinya turun temurun. Adalah Bu Sutami (64th), pengrajin gerabah asal Desa Kabongan RT 01 RW 03 Rembang.

Bu Sutami (64th), pengrajin gerabah asal Desa kabongan RT 01 RW 03 Rembang, mengolah gerabah dengan cara tradisional.

Kerajinan tangan berupa pembuatan gerabah di Rembang sudah ada dan dikenal sejak jaman Belanda. Namun kini hanya tinggal 4 pengrajin saja yang masih bertahan.

Disik nek daerah Sidowayah akeh seng garap ngene iki, suwe suwe dho ngaleh nyambut gawe rajungan soale cepet ntok duwet, sak iki kari wong papat seng gawe gerabah ko lempung” kata bu Sutami yang lebih dikenal warga sebagai pengrajin gerabah dari kabongan kidul dekat makam pahlawan.

(Dahulu di daerah Sidowayah banyak yang mengerjakan kerajinan ini. Tapi lama lama berpindah pekerjaan membuat rajungan karena penghasilannya lebih cepat. Sekarang tinggal empat orang yang membuat gerabah dari tanah liat)

Dalam sehari, Bu Sutami mampu menghasilkan 30 cobek, bahkan bisa lebih jika bahan bakunya yang berupa tanah liat tersedia. Diakuinya pula bahwa yang paling sering dipesan adalah cobek atau lemper. Selain itu, ada juga pot bunga, wajan dan lainnya tergantung dari pesanan pelanggan.

Iki wes turun temurun soko buyut mas. Kelas 3 SD aku wes ngiwangi mak gawe cobek, saking kepenake, seneng soale iyo ntok duwet ngasi sak iki tak tekuni,” cerita bu Sutami.

(Ini sudah turun temurun mas.Kelas 2 SD saya sudah membantu ibu membuat cobek. Lama lama suka karena bisa menghasilkan uang. Ya saya tekuni hingga sekarang. Dalam pemasarannya Bu Sutami cuma punya satu penjual langganan. Itupun cukup membuatnya kewalahan. Pernah suatu ketika dirinya sakit  empat bulan, penjual gerabah langganannya sempat resah karena stok cobek kosong. Apalagi, cobek bikinan Bu Sutami terkenal halus  dan bagus.

Kendala yang di hadapi Bu Sutami adalah waktu musim hujan. Sebabnya tanah liat menjadi  sulit di dapat dan terlalu banyak kadar airnya. Berbeda dengan musim kemarau dimana bahan gerabahnya mudah di dapat.

“Kalau musim kemarau gampang cari tanah liatnya mas, bawa alat gancu atau linggis dicongkeli terus di bawa pulang, dicampuri  air dan pasir secukupnya agar kuat. Yang Meracik ibuku sendiri soalnya saya nggak bisa. Terus lagi kalau musim hujan tidak bisa mengeringkan cobek yang sudah jadi dan proses pembakaranya menjadi lama,” imbuh salah satu putra Bu Sutami.

Cobek dan lemper hingga kini masih sering kita jumpai utamanya untuk acara-acara tradisi dan perlengkapan dapur yang murah dan ramah lingkungan.

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen