X

Kaos Kipasoak Ramai Digemari Masyarakat Pati, Inilah Rahasia Konsep Prodaknya!

Semakin hari brand kaos Kipasoak kian melejit dan digemari oleh masyarakat Pati. Kaos dengan konten lokal yang dikemas bernuansa global ini makin mendapat tempat di hati wong Pati. Tak hanya dipakai di Pati, Kipasoak juga menjadi kaos yang paling sering dipakai warga Pati di luar negeri sebagai identitas khas dan kebanggaan.

Penasaran, reporter wartaphoto.net berkesempatan mewawancarai konsep seperti apakah yang digunakan sehingga desain-desain baru yang diluncurkan selalu mendapatkan sambutan hangat dari penggemarnya?

DS Priyadi bersama Abdullah Jamil administrative assistance Kipasoak terus melakukan penyelarasan dengan pertumbuhan teknologi yang terjadi

WP.net: Jika tidak berkeberatan, bisakah mas DS Priyadi sharing ke pembaca seperti apa konsep prodak Kipasoak?
DS Priyadi: Tak ada konsep yang rumit. Pada prinsipnya, kita ingin menyajikan prodak dengan kualiti yang baik, dari segi bahan maupun kerapian. Semua prodak Kipasoak menggunakan bahan katun yang adem, yang cocok untuk iklim tropika. Di luar itu, adalah soal kreatifitas desain dan konten yang disajikan. Kita berusaha memberikan yang unik, fresh, dan kekinian. Kurang lebih seperti itu koridor kreatifnya.

WP.net: Bisa dijelaskan mengenai koridor kreatif yang Anda maksud?
DS Priyadi: Artinya, kaos ini kan punya fungsi ganda. Disamping sebagai busana dalam pengertian yang umum, sekaligus ia berfungsi sebagai alat ekspresi dalam pergaulan. Baik itu pergaulan antar kota, antar daerah, maupun antar negara. Tentu juga sebagai tombo kangen sesama orang Pati ya.

Sebagai pertanggung jawaban artistik, temen-temen yang membantu divisi kreatif sudah mempertimbangkan berbagai aspek supaya desain-desain yang dibuat bisa mengakomodir kebutuhan tersebut dengan standar estetika yang bisa membuat bangga pemakainya. Anda mau pake di kampus, di bandara, melancong keluar negeri, untuk kostum tim, instansi, pendeknya Anda bisa nyaman dan pede. Itu koridor kreatif yang saya maksud.

WP.net: Aspek apa saja yang dipertimbangkan?
DS Priyadi: Tiap desain berbeda-beda mengingat ide yang ingin dikomunikasikan juga beda. Tapi yang paling mendasar kami berusaha memperhatikan aspek artistiknya. Supaya ada takaran. Supaya komunikasinya terarah juga. Kenapa begini dan begini, mesti ada narasi dan literatur pendukungnya.

Minimal aspek artistik ini beres dulu. Baru, jika memang dibutuhkan, kita bisa merambah aspek-aspek yang lain. Misalnya, aspek semiotika. Nah, kalau Anda cermati, desain-desain Kipasoak ini kan kebanyakan simpel ya. Itu bukan karena tak bisa bikin yang macem-macem, karena ada pertimbangan semiotik yang di sini menuntut kehati-hatian. Setiap bentuk atau simbol kan menimbulkan dampak yang asosiatif. Kalau sekiranya suatu simbol kita perkirakan membawa dampak asosiatif yang buruk, ya tidak kita pake. Lebih baik kita menghindari spekulasi semiotik yang dampaknya di masyarakat belum tentu baik.

WP.net: Dampak yang bagaimana Mas?
DS Priyadi: Begini. Kalau diperhatikan, desain kaos ini kan punya story timeline yang melahirkan berbagai genre. Genre yang dominan di kalangan anak muda adalah desain-desain yang muatannya anti kemapanan. Anti mapan ini tidak buruk, kalau yang dimaksud adalah kemacetan sistem atau nilai. Tapi kalau anti sistem dan anti nilai secara membabi-buta kan tidak bener. Apalagi anti agama.

Jika Anda pernah lihat kaos bertulis “Make Love, Not War”, kan keren itu ya? Tapi bagi yang ngerti, ini bukan soal keren. Quote tersebut dipopulerkan oleh Kaum Hippies di era 60-an di Amerika yang mempropagandakan kehidupan damai dan cinta, anti-perang. Waktu itu heboh dan meluas pengaruhnya ke berbagai negara. Jadi cultural movement di mana-mana termasuk di Indonesia. Sebutan Kaum Hippies ini juga sangat mengesan, yaitu Flower Generation.

Nah celana sobek-sobek ini kan munculnya dari situ. Karena anti yang mapan itu tadi. Mereka males tampil rapi. Mereka menolak simbol-simbol kebudayaan yang materialistik. Mereka menolak basa-basi masyarakat yang formalis, manipulatif, gemar berkompetisi serta miskin toleransi. Okelah! Bagus, termasuk visi perdamaiannya. Tapi masalahnya, secara langsung atau tidak, pergaulan bebas, mariyuana, alkohol awalnya juga muncul dan meluas dari sini.

Pengaruhnya sangat kuat, hingga sekarang ini, dan seringkali secara tidak sadar dijadikan sebagai kiblat. Termasuk mempengaruhi seni terapan seperti konten desain kaos. Gambar tengkorak, gambar mawar, gambar botol alkohol, gambar pisau dan darah, umpatan-umpatan anti kemapanan, dan macem-macem.

Nah, Kipasoak tidak memilih ekspresi atau simbol yang eksentrik seperti itu. Sebab secara konsep kami memang tidak anti nilai. Sebaliknya, malah demonstratif terhadap hal-hal yang mendukung pengembangan nilai yang baik dan konstruktif.

Kita respect dan menjaga aspek-aspek moral, karena bagaimanapun juga kaos ini kan salah satu media populis yang tentunya efektif untuk mengkampanyekan gagasan-gagasan. Kita mesti selektif dan sebisa mungkin berusaha menyebarkan hal-hal yang edukatif. Kok jadi serius ya? (hehehe)

WP.net: (Hehehe) Tapi ini menarik Mas. Oya, supaya aspek-aspek yang dimaksud tadi mudah dipahami, bisakah memberi contoh dengan salah satu desain Kipasoak?
DS Priyadi: Oke. Contoh, desain pertama Kipasoak, Pati Cilik Ngangeni. Meskipun sederhana, tapi seleksi diksinya sudah ketat ditinjau dari berbagai segi. Kita sudah sama maklum, bahwa secara primordial siapa saja memiliki kerinduan terhadap tanah kelahiran. Itu universal ya. Juga, kata “Cilik” di sini sengaja dipilih karena faktanya Pati memang kota kecil. Kan kecil juga bukan hal jelek. Yang realistis itu kan bagus. Mampu melihat diri secara obyektif itu bagus. Jujur kan bagus to? Seterbatas apapun yang kita punya, itulah diri kita. Kalau kita wong Pati masa ya kita kangen dengan kota Yogya, misalnya. Kan nggak to?

Itu sama dalam kehidupan sehari-hari. Kita punya seorang adik yang terbatas dalam berbagai hal, masa ya kita lalu menyayangi adik orang lain yang kita anggap sempurna. Ibu kita mungkin tidak sempurna, anak kita mungkin tidak sempurna, paman kita mungkin tidak sempurna, termasuk tanah kelahiran kita juga tidak sempurna. Tapi kita tidak ada alasan untuk mengingkari mereka. Sebab, merekalah alamat cinta dan pengabdian kita.

Nah, kira-kira begitulah implementasinya. Berangkat dari itu, jadilah desain pertama Kipasoak, Pati Cilik Ngangeni. Jadi, wawasan di sini menjadi instrument yang turut berperan dalam mengemas prodak. Secara artistik desainnya memilih style typografi yang lugas dan jelas. Simpel. Sekedar tulisan begitu saja. Tapi itu bukannya nggak diapa-apain ya. Itu diolah dan dipikirkan juga estetikanya. Ben enak disawang. Kalau gak enak nanti yang makek gak pede. He he he

DS Priyadi bersama Kolega

DS Priyadi kiri bersama kolega
WP.net: Oke. Rupanya membicarakan konsep prodak bisa luas ke mana-mana ya Mas. Sepertinya perlu sesi tersendiri supaya bisa tuntas membahas. Saya jadi membayangkan, kalau mau buat prodak kaos, rumit juga prosesnya. Sejauh mana peran wawasan ini harus kita libatkan dalam mengemas prodak?

DS Priyadi: O, tadi kan hanya contoh bagaimana konsep Kipasoak membuat diferensiasi prodak supaya unik, supaya berbeda dengan prodak yang lain. Karena saya lama terjun dalam aktifitas kebudayaan, maka kaos-kaos Kipasoak saya maksudkan menjadi cultural campaign agar generasi muda mencintai nilai-nilai positif yang kita gali dari konten lokal Pati.

Tapi bagi yang ingin membuka sebuah usaha, kaos atau apapun, ya jangan rumit-rumit. Minimal penggarapan prodaknya rapi, kualitas bahannya bagus, itu sudah berbeda dari yang lain-lain. Itu sudah memenuhi syarat dasar membuat suatu prodak bernilai unique.

WP.net: Oya Mas, kita beralih ke hal lain. Seiring dengan banyaknya brand kaos yang ada di Pati, strategi seperti apa yang Mas Pri gunakan untuk menghadapi persaingan dengan mereka?
DS Priyadi: O, itu bagus to. Artinya ada lapangan kerja baru yang maslahat untuk banyak orang. Kalau sikap saya positif saja. Saya tak merasakan ada iklim persaingan dengan mereka. Malah kita niati sebagai sikap pribadi bahwa mereka adalah partner.

Kita kan harus saling menghormati kan. Syukur bisa saling mendukung. Kalau ada yang cari desain ini-itu yang di Kipasoak tidak ada malah kita rekomendasikan ke brand lain. Misal yang cari desain gaya kartun-kartun, kan kita tidak buat. Maka kita rekomendasikan ke Pati Oblong yang sebagian desainnya comic style.
Selalu begitu. Ada konsumen bahkan sering nunjukin gambar kaos yang mau dibeli, tapi bukan desain kita, maka kita informasikan brand pembuatnya ke dia. Kita memfokuskan energi untuk memperbaiki diri, baik dari segi prodak maupun pelayanan. Jadi gak ada strategi begini-begitu. Kalau yang kita sajikan baik, masyarakat pasti ngertilah.

WP.net: Tapi saya dengar banyak desain Kipasoak yang dibajak. Apa sikap Anda?
DS Priyadi: Waaah, itu memprihatinkan ya. Dalam hal ini, asas saling menghormati berarti nggak jalan. Sebagaimana saya ceritakan tadi, desain-desain ini kan tidak jadi begitu saja. Perlu waktu, biaya serta curahan tenaga dan pikiran untuk membuatnya. Artinya itu berkenaan dengan hak orang lain yang mesti dihormati. Di sini kita mesti berhati-hati, sebab membuka usaha apapun kan konteksnya sebenarnya mencari nafkah. Masa ya kita memberikan nafkah pada keluarga kita dari sebuah usaha yang mencederai hak orang lain?

Tapi saya kira mereka ini tidak ngerti ya, bahwa aspek moral sebenarnya hal yang penting dipegang, agar sebuah usaha bisa tumbuh dan berkembang. Membajak kelihatannya memang hal sepele karena di Indonesia sudah menjadi kultur yang hegemonik. Tapi jika kita menyadari, hal itu sangat berbahaya untuk pembajaknya sendiri, karena membikin mereka justru macet kreatifitasnya. Dan lebih parah lagi, gemar jalan pintas seperti itu bisa menjadi kebiasaan yang akan terus mencengkeram dan membonsai usaha serta kepercayaan diri mereka. Lha kalau nanti menular pada anak cucu terus piye? Kan repot.

Sementara pada fitrahnya, kita semua ini kan gak mungkin mengabaikan hal-ihwal yang bersifat moral. Itu akan menggelisahkan karena metabolisme mental terganggu. Baik pemodal, penyablon, penjaga tokonya, resellernya, pembelinya, bagaimanapun juga tidak merasa nyaman karena tahu bersinggungan dengan sebuah prodak yang prosesnya mengabaikan hak orang lain serta kaidah moral.

WP.net: Terus bagaimana solusinya?
DS Priyadi: Lha kan sudah saya bilang ini masalah moral. Dalam perspektif yang lebih spesifik ini masalah kultural. Moral, maksudnya aspek-aspek yang mengacu pada nilai baik-buruk. Parameternya bisa agama, norma atau etika dalam bermasyarakat. Itu yang mereka langgar. Sementara kultural saya maksudkan sebagai kebiasaan yang telah meluas di masyarakat. Kalau kebiasaan bagus gak papa. Kalau kebiasaan yang jelek kan jadi complicated ya!

Solusinya, ya si pelaku sendiri mesti membuka kran kesadaran moral dan kulturalnya. Harus dibenahi dan diarahkan ke sikap yang lurus. Misal mau sama-sama membuat desain kata Gagego, kan bisa dengan desain yang lain. Itu kan ada jutaan kemungkinan bisa dibikin begini atau begitu. Banyak desainer, kita bisa membayar mereka. Mereka sudah faham akan bidangnya. Itung-itung bagi-bagi rejeki ya. Kan lebih enak begitu. Lebih plong karena menempuh jalan baik. Insyaallah rejekinya juga lebih berkah.

WP.net: Yang terakhir ini Mas. Kipasoak ada kejutan apa untuk menyambut lebaran tahun ini?
DS Priyadi: Hehehe. Kalau yang ini no comment ya. Nanti gak surprise lagi dong. Tapi bagi yang mengikuti akun-akun Kipasoak seperti Instagram, Facebook, Website, Sophie, Bukalapak, dll, secara graduatif kami upload desain-desain baru di situ.

WP.net: Baik. Terima kasih sudah meluangkan waktunya Mas. Semoga Kipasoak makin ngehitz ya Mas.
DS Priyadi: Hehehe… Amin. Terima kasih juga.

Wawancara sebelumnya:
– Inspirasi “Dosis Tinggi” Dari DS Priyadi, Owner KIPASOAK
– KIPASOAK: Spirit Lokal, Beraksi Global

Facebook Comments