Budaya

Main Ketoprak Lakon Damarwulan Winisudho Bareng Kades Se Juwana, Haryanto Sentil ADD

JUWANA – Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia, contohnya seperti yang dilakukan oleh Muspika serta Kades se Kecamatan Juwana ini. Untuk memeriahkan HUT RI ke 72 tahun serta Hari Jadi Kabupaten Pati ke 694 tahun, mereka menggelar pertunjukan ketoprak yang semua pemainya adalah Muspika serta kepala desa se-kecamatan Juwana dengan nama Pakde Budoyo. Lakon ketoprak yang dimainkan adalah Damarwulan Winisudho atau Damarwulan Ngratu (Senin,28/08) di alun alun Juwana.

Menurut Kasie Pemerintahan Kecamatan Juwana Raden Ahmada Mangkunegara, ini adalah salah satu wujud dari cinta budaya yang dituangkan dalam perayaan HUT RI ke 72.

“Ini untuk nguri-nguri budaya dalam rangka HUT RI 72 dan mangaubagyo dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati Pati. Selain itu juga untuk menjaga kekompakan muspika beserta kades se-kecamatan Juwana,” Ungkap Raden Ahmada

Ahmada juga menuturkan bahwa nantinya agar budaya ketoprak ini bisa juga diikuti oleh kepala desa di kecamatan yang lainya, sesuai anjuran Gubernur Jateng yang memberikan contoh dibeberapa kota seperti Jepara dan Semarang.

 

Dengan latihan yang hanya sekitar 2 mingguan para kades ini dituntut untuk bermain layaknya profesional meski banyak kendala dari segi bahasa dan lainya.

Sependapat dengan Ahmada, Kepala desa Bakaran Kulon Subiyanto yang juga menjabat sebagai ketua paguyuban ketoprak se Juwana menyebutkan ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kesenian ketoprak selain tentang ilmu pemerintahan, pengajaran dan mendidik sopan santun kepada anak, juga tentang bagaimana cara mengenal wanita, agar kita bisa mencermati setiap filosofi budaya.

“Harapan kita budaya di wilayah Juwana jangan punah, kita selaku pimpinan dari semua kepala desa se kecamatan Juwana, berharap agar nantinya masyarakat bisa mengambil filosofi dari kebudayaan ketoprak serta ada tunas-tunas yang berbudaya dan beradiluhur agar bangsa ini tetap menjadi bangsa yang berbudaya” pungkasnya.

Haryanto yang berperan sebagai Ayahanda Damarmulan menyelipkan pesan untuk para kades dalam ucapannya.  “Dadiyo pemimpin sing jujur, ngayomi masyarakat, bangun deso seng apik, ojo di korupsi dana ADD soale iku kanggo kesejahteraan masyarakat,” demikian wejangan Mou Doro, ayahanda Damarwulan yang diperankan bupati Haryanto.

Selain Haryanto, nampak pula Danramil Juwana Bapak Yahudi, Bapak Camat Juwana, Teguh Widiatmiko.  Minak jinggo diperankan Sugiyanto, Kades Bakaran Kulon, sedangkan damarwulan diperankan Kades Kebonsawahan.

Salah satu momen yang cukup menggelitik adalah ketika saah satu adipati gugur saat peperangan. Namun, ada salah satu penonton tiba-tiba nyawer, ternyata sang adipati langsung nyaut dan akting tewas lagi sambil menahan ketawa.

Sukarmin, warga Sembaturagung Jakenan, yang menonton pagelaran ini merasa terhibur dengan adanya pertunjukan ini.

“Wah iki apik mas kanggo panutan soale seng main petinggi Iso kanggo tauladan, aku yo pingin delok koncoku petinggi Bringin seng melok main ketoprak,” kata Sukarmin

(wah bagus  mas, buat panutan. Soalnya yang main kepala desa jadi bisa jadi teladan. Saya ya ingin menonton soalnya teman saya, Kades Bringin ikut main)

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Facebook Comments

www.wartaphoto.net “foto dan peristiwa”

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *