Berita Pati

Mengira Kapolsek Wedarijaksa Sudah Dimutasi, DPO Pemerasan ini Diciduk Saat Berkeliaran

Unit Reskrim Polsek Wedarijaksa meringkus pelaku pemerasan dan kekerasan.

WEDARIJAKSA – SU, 26, warga Kecamatan Dawe, Kudus, pelaku pemerasan dan kekerasan di SPBU Wedarijaksa akhirnya diciduk setelah menjadi DPO seminggu. SU diketahui telah memerasa dan menganiaya Saiful, 21, warga Kecamatan Merak Urak Tuban. Pelaku diciduk saat lengah karena mengira Kapolsek Wedarijaksa AKP R Sulistyanigrum sudah dimutasi.

Kejadian itu bermula ketika korban dijebak tersangka supaya mengirimkan batu putih ke Wedarijaksa. Namun sesampainya di SPBU turut Desa Panggungroyom, Wedarijaksa pada 5 Oktober pukul 02.00 dini hari, tiba-tiba truk korban dihentikan dan kaca pintu dipukul pelaku menggunakan sabit.

Pelaku lantas menendang korban hingga terjatuh dan uang Rp 800 ribu dari dompet korban berserakan di jalan. Uang itu lantas diambil pelaku dan mengancam korban kalau tidak diberi uang maka korban akan dibunuh.

“Kami mendapatkan laporan pagi harinya setelah kejadian. Pelaku kami lidik selama sepekan. Alhamdulillah Jumat(13/10) kemarin berhasil kami ciduk di trmpat biliard warung kopi turut Desa Penambuhan, Kecamatan Margorejo,” ungkapnya.

Sulis mengaku, setelah tersangka diinterogasi, rupanya mengira kalau Sulis sudah dimutasi ke Semarang. Tersangka terkecoh dengan informasi pindahnya kapolsek tersebut. Sehingga tersangka berlagak belagu dan berkeliaran.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum menahan tersangka pemerasan dan kekerasan di TKP SPBU Wedarijaksa.

Sulis mengungkapkan, sebelumnya antara korban dan tersangka merupakan rekan usaha. Korban sebagai penjual batu bata putih dan tersangka sebagai perantara. Sebelum kejadian pemerasan dan kekerasan terjadi, ada kesalahpahaman antara korban dan tersangka. Tersangka memesan 5 ribu batu putih untuk orang lain dan korban mengirim sesuai pesanan. Namun tersangka hanya membayar batu putih sebanyak 4 ribu, kurang pembayaran seribu.

“Korban meminta kekurangan uang pembelian batu bata namun tidak ditanggapi tersangka. Sehingga seribu batu putih yang belum dibayar tersangka itu diambil lagi oleh korban. Kemudian pada pemesanan berikutnya, korban tidak menggunakan jasa perantara tersangka dan langsung melayani konsumen di area Pati,” ungkapnya.

Kondisi itu membuat tersangka marah dan dendam kepada korban. Selanjutnya, tersangka merencanakan skenario memesan kembali batu bata dan dikirim ke Kecamatan Wedarijaksa supaya dapat mengancam korban.

“Kami sudah mengamankan beberapa barang bukti. Selain itu, juga ada satu DPO lagi teman tersangka yang kini masih diburu,” jelasnya.

Reporter : Arton

Editor    : Putri T.

Facebook Comments

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *