Budaya Pati

Sisi Lain, Kisah Pohon “Kelapa Tunggal” Pasar Tayu. Benar Angker Atau Hanya Mitos?

TAYU. Pembangunan Pasar Tayu tahap kedua ternyata terdapat satu kejadian unik. Tepat ditengah tapak lokasi yang akan dibangun kios deret terdapat pohon kelapa tunggal. Pohon kelapa yang diperkirakan usianya lebih dari 50 tahun itu menyisakan beragam keyakinan dikalangan pedagang.

Bahkan sejumlah pedagang meminta kelapa tersebut tidak dipotong. Ada yang berkeyakinan pohon kelapa itu dihuni penjaga pasar. Bahkan ada juga yang mengatakan jika pohon kelapa itu dipotong, yang terkena dampak bukan hanya pedagang saja, melainkan warga Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu.

Akan tetapi, pohon tunggal khas Pasar Tayu tersebut akhirnya berhasil ditumbangkan pada Kamis 26/10 mulai pukul 00.00 – 01.00 WIB tepat dini hari. Dipotong oleh orang Semarang yang didatangkan pihak pemborong. Kelapa tersebut dirobohkan dengan kapak.

Cerita Mbah Dun
Reporter wartaphoto.net mencoba menelusuri tentang apa yang diyakini oleh sebagian warga tersebut. Kami menemui Mbah Dun yang bernama lengkap H. Ahmad Sa’dun (76th) warga Sambiroto RT 5 RW 2 Tayu. Beliau mengisahkan cerita yang diakuinya sebagai kisah nyata yang dialaminya.
Saya masuk ke Tayu tahun 1968. Satu satunya rumah yang berani menghadap kesana cuma rumah saya. Kalau sudah maghrib tidak ada yang berani lewat sama sekali melaui jalan ini tahun 1968.
Sebelum jadi pasar, terminal dulu, seperti alas (hutan-red), rimbun angker. Salah satu bukti keangkerannya, anak saya yang ketiga, saat masih balita sedikit-sedikit sakit. Sembuh lagi, panas lagi, sembuh lagi panas lagi. Saya tanyakan ke orang pinter katanya terkena dari mahluk alam lain dari sekitar situ,” lanjutnya.
Saya nggak terima, jam 1 malam saya kesana. Duduk, bawa tasbih, dzikir, karena saya muslim. Saya mendengar suara gemuruh ramai sekali seperti kota, tapi lama kelamaan saya dzikir kok suaranya menghilang. Lalu tak ada lagi suaranya. Nah setelah itu, anak saya tidak pernah sakit-sakitan lagi. Barangkali ya ada (penunggunya-red).
Menjelang tahun 70an, pemiliknya (pemilik lahan-red) namanya mbah pulham, lahannya dijual dan dibeli pemerintah, dibuat terminal. Semuanya dibersihkan, kelapanya dibersihkan semua. Kelapa yang bikin geger itu saja yang menanam, ya yang mengerjakan alun-alun kok. Ya ndak ada apa-apanya. Cuma orang ya begitu, sukanya bikin cerita-cerita aneh-aneh saja.
Tapi, begini mas, saya tak cerita, suatu malam saya ditemui mahluk halus berwujud perempuan, cantik, datang minta air wudhu.
Terus saya tanya, namanya siapa? Namanya Sukilah. Dia datang minta air wudhu. Itu dalam mimpi saya kok dia minta Mbah aku pek’en Bojo (Mbah jadikan aku istrimu-red).
Saya pikir daripada bagaimana bagaimana, okelah saya bersedia asal dia bisa bisa memenuhi 3 syarat.
1. Kamu minta ridho leluhurnya dari Nabi Adam sampai sekarang sampai hari kiamat. Dia sanggup
2. Saya minta ijin istri saya tapi jangan dipengaruhi hatinya. Dia juga sanggup
3. Syarat ketiga, kamu tidak boleh mengganggu anak cucu saya, sampai hari kiamat. Dan seluruh saudara-saudara muslim didunia ini. Dia malah minggat sambil mengumpat “nyalahi kodrat…..”
Terus tidak ada apa apa lagi. Dan menurut saya makhluk lain yang ada disini itu kebetulan tidak ada yang jahat. Jin Muslim itu. Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang diganggu atau kenapa kenapa. Ndak Ada.

Kesaksian lain disampaikan Sunarto, warga Sambiroto RT 9 RW 1. Pria kelahiran 1955 ini menceritakan bahwa dulunya lokasi tersebut hutan kelapa. Ditumbuhi alang alang yang lebat. Semua pohon kelapa bisa diatasi, kecuali ada 2. Tapi yang satu dulu sudah bisa diatasi dan tinggal satu ya kelapa tunggal itu.
“Tidak ada kejadian apa apa. Mboten enten godaan nopo2. Neng ancen warga mriki do gak wani,” kata Sunarto.

Sempat Jadi Dilema
Pelaksana Proyek Suris mengaku sempat dilema antara prosedur proyek dan permintaan warga. Namun, menurut dia selama bertugas sejak tanggal 4 September 2017, tidak terdapat kendala yang tidak masuk akal.

”Letaknya pohon kelapa itu di dalam sebuah kios pedagang yang sedang dibangun, dekat dengan lahan yang nantinya disediakan untuk lokasi parkir, jadi ya sebaiknya memang dibersihkan,” ujar Suris.

“Aman-aman saja mas waktu nebang pohon kelapa, nggak ada apa-apa. Nggak angker kok,” pungkasnya.

Namun, mengapa menebangnya harus tengah malam?

Reporter: Arton

Editor: Revan Zaen

Facebook Comments

www.wartaphoto.net “foto dan peristiwa”

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *