wartaphoto

Tak Mampu Atasi Bau Asap Pabrik Ikan, Mampukah Atasi Asap Pabrik Semen?

pabrik pengolahan ikan di pati

Kepulan asap dari cerobong Pabrik pengolah ikan di Jalan Juwana Pati disertai bau yang sangat menyengat resahkan warga. Foto WP02RF

Pati. Komitmen Pemerintah Kabupaten Pati dalam hal investasi atau menarik investor menanamkan modalnya di Pati sangat terasa. Berdirinya berbagai perusahaan dan sentra sentra perdagangan menjadi buktinya. Mulai dari menjamurnya minimarket di berbagai wilayah Kabupaten Pati, hingga perusahaan otomotif sekelas Daihatsu dan Honda. Bahkan, Pabrik Semen pun tertarik mengeksplorasi sumber daya alam khusunya kapur di Pegunungan Kendeng.

Bahkan khusus pabrik Semen, belum juga pabriknya di bangun, CSR perusahaan sudah menyasar wisata Goa Pancur untuk dipercantik. Pemerintah Kabupaten Pati dalam hal ini Bupati Pati bahkan ”ngotot” untuk merealisasikan Pabrik Ini berdiri.

Meskipun ditentang masyarakat Kendeng yang kemudian mengajukan gugatan di PTUN Semarang yang akhirnya menang, Pihak PT SMS dan Bupati mengajukan banding di PTTUN Surabaya. Hasilnya pihak penggugat yakni Bupati Pati dan PT SMS yang kemudian menang.

Investasi di bidang industri di Pati memang menjanjikan keuntungan yang besar. Namun dengan pengelolaan dan ketegasan pemerintah kabupaten dalam mengontrol jalannya perusahaan menjadi bumerang tersendiri.

PT Bumi Indo Pati dan Indo Citra yang bergerak dalam bidang pengolahan tepung ikan ini contohnya. Pabrik yang berdiri di Jalan Pati Juwana ini meresahkan warga Jakenan, Wedarijaksa dan Pati Kota. Sejak pertama didirikan hingga kini polemik bau menyengat yang ditimbulkan tak kunjung teratasi. Paling lama sehari saat ada rencana kunjungan pemerintah ke PT Dua Putra Utama Makmur yang berada di depannya, bau amis ikan sementara teratasi. Tapi setelah itu kembali menimbulkan bau.

“Ora umum mas, ambune badeg. Yo industri yo industri neng dak ojo dinjarke ambune nyebar neng deso-deso. Ora nyaman blas” (tak biasa mas, baunya menyengat. Industri ya industri tapi ya jangan dibiarkan baunya menyabar hingga ke desa-desa. Sama sekali tidak nyaman”. Ujar Sutomo, warga Jakenan.

Hal senada dikatakan Fitri. Pelajar SMA Negeri di Pati ini menyebut bahwa baunya sangat menganggu. Sudah pakai masker pun masih tembus rasanya. Kan citra Pati menjadi tidak baik kalau dilewati warga daerah lain.

Kritikan pedas justru muncul dari warga Pati Kota yang merasakan bau menyengat.

“Mengatasi bau asap pabrik ikan saja tidak bisa, kok mau mengatasi asap semen” Ujar Mustari, Pria yang sehari hari melintasi jalan Purworejo, tepat di belakang Pabrik.

“Padahal ketika pendirian perusahaan kan Amdalnya sudah diteliti. Lha ini kok dilanggar tapi terkesan dibiarkan. Bagaimana fungsi kontrol pemerintahnya?” Imbuhnya.

pegunungan kendeng

Daerah pegunungan kendeng yang rencananya akan didirikan Pabrik Semen. Foto WP02RF

Sebenarnya Bupati Pati pernah mengultimatum perusahaan tersebut untuk membeli alat penangkap bau pada bulan Maret lalu dengan tenggat waktu 3 bulan. Namun hingga hampir 6 bulan sejak diultimatum sepertinya tak ada perubahan berarti.

“Pas jam 6 mas ambune mblengeri tenan. Ora maskeran ya ora tahan” (Kalau jam 6 baunya paling menyengat mas. Kalau tanpa masker tidak tahan baunya” Ujar salah satu pegawai SPBU yang berada di dekatnya.

 

Facebook Comments

www.wartaphoto.net “foto dan peristiwa”

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *