X

Ternyata Juwana Pernah Menjadi Kota Kadipaten Tahun 1628 –  1895. Ini Sejarahnya!

JUWANA.  Peringati haul Bupati Juwana, kerabat Soerowikromo Mangkoedipoero adakan jamasan pusaka peninggalan Bupati Juwana. Pusaka  tersebut  berupa songsong 5 buah yang di berikan oleh kerajaan mataram ke 3 sampai sinuwun pakubuwono yang ke 4.  Pemberian tersebut merupakan hadiah yang menandakan lambang atau simbol bahwasanya beliau sebagai pengayoman di Kota Juwana dan sekitarnya.

Selain 5 songsong yang sudah berusia 300 tahunan ini,ada juga peninggalan Bupati Juwana yakni masjid Tayu. Salah satu buktinya adalah pada  tempat imaman ada tertulis hadiah dari Bupati Juwana Kanjeng Adipati Soerowikromo. Ada juga Langgar ukir di Dukuh Belah Desa Margomulyo Tayu sampai sekarang. Peninggalan lainnya berupa tombak dan keris namun hilang diambil orang atau di curi.

Jamasan pusaka peninggalan Bupati Juwana

” Tradisi ini (jamasan –red) kita lakukan guna nguri – nguri sejarah bahwasanya kita tidak boleh melupakan sejarah karena dari sinilah kita bisa mengambil hikhmah apa yang pernah di lakukan beliau setidaknya kita bisa mengambil suri tauladanya yang baik,” kata Bambang siswanto sesepuh Soerowikromo Mangkoedipoero, pada acara Jamasan Jumat (27/04) lalu di Jatisari Desa Growong Kidul.

Kadipaten Juwana

Diceritakan, Juwana menjadi Kadipaten mulai tahun 1628 atas perintah Sultan Mataram ke 3 yang memerintahkan  Tumenggung Bahurekso  untuk memimpin keadaan Kota Juwana. Akhirnya disusunlah pemerintahan Kota Juwana menjadi kota kadipaten di bawah kekuasaan kerajaan mataram. Kepemimpinan dipegang oleh Tumenggung Noropekso,dan dilanjutkan  oleh Kyai Tumenggung Mertolaksono.

Sesudahnya, pemerintahan Kota Juwana jatuh ke tangan Pieter Pangus dari Belanda. Tak lama menjabat kepemimpinan Kadipaten Juwana akhirnya dipegang lagi oleh tumenggung Noropekso,dilanjutkan Tumenggung Kyai Citrokusumo, diteruskan Kyai Tumenggung Soerowikromo, diteruskan putranya,  Tumenggung Soerohadiwikromo,  diteruskan kyai tumenggung manguprojo.

Makam Bupati Juwana

Setelah itu baru dipimpin Kanjeng Mankoedipoero 1,Mankoedipoero 2, Mankoedipoero 3, dan terakhir  Raden Kyai Tumenggung Cokrohadiningrat. Jadi pemerintahan kota juwana di tahun 1628 – 1895 di pegang sekitar 12 kepala pemerintahan setingkat Kadipaten.

“Namun karena Kanjeng Kyai Tumenggung Condrohadiningrat di kehendaki oleh Ramanda Bupati Pati Kanjeng Bupati Condrohadinegoro,akhirnya pemerintahan juwana terhakimi. Setelah itu jadi pemerintahan distrik regent atau kawedanan yang setingkat kadipaten,” kata Bambang siswanto

“Kemudian tahun 1902 status dari kadipaten diganti kawedanan. Nah, pada  1983 menjadi Kecamatan, hingga sekarang,” pungkasnya.

Facebook Comments